oleh

Kopi Pahit Pelipur Lara dan Janji Manis Pe[mimpi]n

Suatu senja ketika saya berkunjung ke sebuah kampung kecil nan ramah di ujung selatan Indonesia, negeri sejuta lontar, Rote Ndao, saya dikagetkan dengan lantunan syair sarat makna oleh para tetua, walau nadanya sedikit sumbang.

Di sebuah rumah sederhana, saya bersama para sesepuh kampung itu duduk mengitari sebuah meja kayu yang nampak kusam, usianya kira – kira seabad, mungkin peninggalan leluhur.

Sementara seorang ibu bersama anak gadisnya sedari awal kami duduk, nampak sibuk di dapur.

Tak lama berselang, seorang gadis berparas cantik muncul dari arah belakang. Rambutnya terurai panjang, matanya bening, hidungnya mancung, bibirnya merah merona tanpa polesan. Barangkali ini yang biasa disebut, Bundes Liga alias bunga desa licin gagah… Hihihi

Mata saya sedikit terbelalak, namun seketika pikiran saya beralih ke nampan yang dibawa dara manis itu.

Ada sebuah teko berisi kopi panas, wanginya cukup menggoda selera. Selain itu ada sepiring kue cucur yang oleh warga setempat disebut kokis solo. Kue khas pulau Rote.

Dengan santun gadis itu meletakan teko dan piring berisi kue cucur di atas meja. Ia kemudian menuang kopi di beberapa gelas lalu mempersilahkan kami mencicipi.

Sambil menyeruput kopi, seorang lelaki tua membuka percakapan. “Kakak datang lewat mana?” tanya pria yang biasa disapa Maneleo oleh warga sekitar.

Kendati usia saya masih terpaut jauh, namun mereka menyapa saya dengan sebutan Kakak. Mungkin itu adalah cara masyarakat di dusun kecil itu memperlakukan tamu.

“Tadi dari Ba’a lewat jalur Oenusa bapa Maneleo,” saya menimpali pertanyaan Maneleo. “Jalan enak ko Kakak?” Maneleo kembali bertanya.

Sambil mengernyitkan alis dan dahi, saya menjawab “berat pak,” serentak mereka tertawa.

Seseorang di antara mereka mengatakan bahwa kondisi jalan di wilayah selatan Kecamatan Pantai Baru, sudah bukan hal baru dan sudah biasa.

“Bagi kami, kondisi jalan aman, tapi berat di rindu,” ujarnya sembari tertawa sinis.

Saya dibikin bingung. “orang tua ini kok tidak nyambung, tadi kita bicara soal jalan, dia malah bicara soal rindu, Wah tua – tua keladi juga,” gumam saya dalam hati.

Belum sempat saya bertanya, Dia kembali berceloteh soal jalan dan rindu. “Kami menahan rindu untuk menikmati jalan yang baik ketika Rote Ndao belum menjadi Kabupaten, dan rindu itu masih harus kami tanggung hingga saat ini,” ujar pria itu.

Setiap ada perhelatan politik, para politikus selalu memanfaatkan ketertinggalan di wilayah ini sebagai “jualan” politik.

“Jualan itu cukup laris karena bersentuhan dengan mimpi kami yakni menikmati jalan yang baik, tapi akhirnya janji tinggal janji,” ujar pria itu sambil menyeruput kopinya dalam – dalam.

Para Pe[mimpi]n istana khayal lebih suka membangun mimpi kaum marginal yang terpinggirkan tanpa berpikir untuk merealisasi mimpi itu.

Dalam diskusi ringan ala warung kopi, seorang di antara para tua adat itu menjelaskan, dari kampung kecil itu belum ada pemimpin namun lebih banyak menciptakan pe[mimpi]n.

“Setiap pemilihan pemimpin, baik Bupati maupun DPRD, “jagoan” kami pasti menang, dan jalan kami juga berubah, tapi sayangnya berubah menjadi lebih buruk,” ujar sang kepala suku mulai meninggi.

Bahkan, menurut pria tua yang rambutnya sudah memutih ini, para calon pemimpin yang pernah singgah, selalu menghembuskan angin surga yang membuat mereka terlena.

“Semua yang datang janji bikin ini, bikin itu, tetapi terakhir tidak bikin apa – apa, dan kami harus terus menahan rindu,” ujar Maneleo dengan nada kesal.

“Kebutuhan utama kami hanya jalan yang baik, tapi rupanya berat, padahal dari bagian selatan ini ada bapak Wakil Bupati, ada anggota DPRD dari partai Pemerintah, dan beberapa pejabat penting lainnya, tapi entah mengapa, jalan masih begitu saja” imbuh Maneleo meluapkan isi hatinya.

Mendengar lantunan syair sarat makna yang mulai miring, saya mencoba meneduhkan suasana.

“Wah, bapak Maneleo ternyata ikuti perkembangan ya, semua pejabat daerah bapak bisa tahu,” saya menggoda Maneleo diikuti tawa tetua lainnya.

Dalam suasana tersebut, tergambar sebuah harapan besar dari masyarakat di daerah ini tanpa embel – embel politik.

Harapan menikmati licinnya hotmix layaknya yang dinikmati para pejabat di ibukota dengan mobil plat merah dilengkapi AC yang sejuk.

“Yuk bapak – bapak Maneleo, kita lupakan soal janji manis, kita nikmati saja kopi pahit ini, biar tidak terserang diabetes akibat terlalu banyak menikmati janji manis,” ungkap ku.

Semua tertawa lepas, namun seketika suasana hening saat seorang pria tua yang sejak awal diam, mendehem dan meminta untuk bicara.

“Nak, kalau suatu ketika mau jadi “orang besar” jangan banyak bikin janji, karena pada akhirnya banyak orang terluka, apalagi janjinya kelewat manis,” pesan tua adat itu membuat saya terkejut.

Saya mengangguk seraya berkata dalam hati, “tak perlu menjadi “besar” jika harus melukai dengan janji manis yang palsu, tak perlu menjadi pemimpin jika hanya bisa membangun istana mimpi”.

Tak sengaja saya menoleh ke sebuah jam dinding tua yang tergantung di dinding rumah itu. Waktu menunjukan pukul 20.00 Wita. Kami sudah menghabiskan waktu sekira 3 jam.

Kopi dan kue cucur yang disajikan “Bundes Liga” juga tak terasa sudah habis. Saya kemudian mohon diri untuk pulang, namun berjanji akan kembali lagi di lain senja untuk menikmati Kopi Pelipur Lara Janji Manis Pemimpin. (MBN01)

Komentar

Berita Terkait