oleh

Di Ujung Ramadhan, Kecelakaan Maut Memisahkan Pasutri Takmir Mushola di NTT

Kupang, NTT

Retnowati Titik Utari, seorang guru bagi kaum disabilitas di Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), tak menyangka, jika Jumat (23/4/2021) subuh adalah moment Sahur terakhir bersama suami tercinta, Sirajudin Bin Hasan, yang adalah takmir musholah Ababil di polsek kelapa lima, Kota Kupang.

Di ujung Ramadhan 1442 Hijriah, Retnowati dan anak – anaknya harus rela berpisah dengan suami tercinta, lantaran kecelakaan maut di Jl. Frans Seda Kota Kupang, Jumat (23 /4) pagi, yang merenggut nyawa Sirajudin.

Jika kematian bisa ditawar, mungkin Retnowati dan anak – anaknya meminta kepada Sang Khalik agar suami tercinta jangan dulu diambil agar bisa bersama di Idulfitri nanti.

Dengan berurai air mata, Retnowati mengisahkan, sejak pagi, sebelum kejadian nahas itu, suaminya meminyaki sepeda – sepedanya.

Usai membersihkan sepeda, suaminya melihat – lihat foto keluarga yang dipajang di ruang tamu.

“Dia lihat – lihat foto kami berempat, waktu anak – anak masih bayi, lama sekali, tapi saat itu saya gak firasat bakal kayak gini,” ungkap Retnowati.

Usai melihat – lihat foto keluarga, Sirajudin berpamitan kepada istrinya untuk bersepeda.

Retnowati hanya menatap suaminya berlalu dengan sepeda kesayangannya. Dia tak menyangka bahwa musibah ini akan menimpa keluarganya.

Dia tidak pernah menduga akan kehilangan suami tercinta tepat di ujung Ramadhan.

“Saya lagi periksa tugas anak-anak tuna netra, kok perasaan saya gak enak. Ternyata saya dapat kabar bahwa suami saya celaka dan meninggal,” ujar Retnowati penuh haru.

Ketika jenazah suaminya tiba di Masjid Kampung Solor, Kota Kupang, dia melihat jenazah suaminya sempat tersenyum, namun mengeluarkan air mata.

“Saya lihat dia senyum, tetapi setelah anak saya datang, saya lihat dia mengeluarkan air matanya. Padahal dia sudah meninggal,” ujarnya.

Baca Juga:  Gerak Cepat Camat Kelapa Lima Salurkan Bantuan Seng ke Setiap Kelurahan

Kendati berat, Retnowati dan anak – anakya ikhlas melepas kepergian Sirajudin, karena mereka meyakini bahwa semua yang terjadi adalah kehendak Yang Maha Kuasa.

Sementara untuk proses lanjutan terkait musibah tersebut, Retnowati mengaku menyerahkan semuanya kepada keluarga.

“Nanti kita runding dengan keluarga dulu, baru bisa diambil keputusan,” tutup Retnowati.

Untuk diketahui, peristiwa berdarah yang merenggut nyawa Sirajudin Bin Hasan, berawal ketika sebuah mobil truk TNI-AU, bergerak dengan kecepatan tinggi dari arah timur atau dari arah Gedung Keuangan hendak menuju ke arah bundaran Patung Kirab.

Saat tiba di lokasi kejadian, pengemudi tidak dapat mengendalikan laju mobil truk tersebut, karena diduga mengalami rem blong, sehingga menabrak bagian belakang mobil box. Nahasnya, Sirajudin berada tepat di belakang mobil box tersebut.

“Kondisi saat itu pas mau lampu merah. Saya mendengar bunyi benturan. Truk warna biru dari belakang tabrak mobil box,” ujar saksi mata kepada media ini. (MBN01)

Komentar

Berita Terkait