oleh

Pamit Bersepeda, Sirajudin Hasan Kembali Tak Bernyawa

Kupang, NTT

Sebuah peristiwa duka yang menyayat hati menimpa Retnowati Titik Utari bersama anaknya, Afwan Bimantoro.

Betapa tidak, Sirajudin Hasan, tulang punggung keluarga, dalam sekejab menghilang untuk selamanya lantaran sebuah tabrakan beruntun di jalan Frans Seda, Kota Kupang.

Pagi itu, Jumat (23/4/2011). Seperti biasa, Sirajudin membersihkan sepedanya yang diparkir di garasi.

Usai membersihkan sepeda, Sirajudin melihat – lihat foto keluarga yang dipajang di ruang tamu.

“Dia lihat – lihat foto kami berempat, waktu anak – anak masih bayi, lama sekali, tapi saat itu saya gak firasat bakal kayak gini,” ungkap Retnowati.

Usai melihat foto keluarga, Sirajudin berpamitan kepada istri dan anaknya untuk bersepeda.

“Bapak hoby bersepada. Beliau juga bergabung dengan komunitas sepeda Kupang Cycling Club (KCC),” kata Afwan, putra bungsu almarhum Sirajudin.

Menurut Afwan, sekira pukul 10.00 wita, seorang teman sekomunitas dengan ayahnya, menelpon dan memberitahu bahwa ayahnya kecelakaan.

“Terus saya tanya, Bapak parah ka keadaannya? Tapi pak Budi katakan, datang saja dek, dengan mama ya,” ujar Afwan.

Mendengar informasi tersebut, Afwan mulai curiga jika sesuatu terjadi dengan ayahnya.

“Bapak pernah celaka tapi hanya luka – luka, setelah dijahit dan diobati trus bapak pulang,” jelas Afwan.

Sementara itu, Retnowati mengatakan sebelum mendapat informasi tetang musibah tersebut, Ia sedang mengoreksi tugas peserta didiknya.

“Saya lagi periksa tugas anak-anak tuna netra, kok perasaan saya gak enak. Ternyata saya dapat kabar bahwa suami saya celaka dan meninggal,” ujar Retnowati penuh haru.

Retnowati syok mendengar kabar duka tersebut.

Ketika jenazah suaminya tiba di Masjid Kampung Solor, Kota Kupang, dia melihat jenazah suaminya sempat tersenyum, namun mengeluarkan air mata.

“Saya lihat dia senyum, tetapi setelah anak saya datang, saya lihat dia mengeluarkan air matanya. Padahal dia sudah meninggal,” ujarnya.

Kendati berat, Retnowati dan anak – anakya ikhlas melepas kepergian Sirajudin, karena mereka meyakini bahwa semua yang terjadi adalah kehendak Yang Maha Kuasa. (MBN01)

Komentar