oleh

Buntut Laporan PT. Quantum Penarik, 30 Kepala Sekolah di Rote Ndao Dipanggil Polda NTT

Kupang, NTT

Sebanyak 30 orang Kepala Sekolah (Kasek) di Kabupaten Rote Ndao dipanggil Penyelidik Ditreskrimum Polda NTT di Ruangan Reskrim Polres Rote Ndao, pada Rabu, (27/10/2021).

Para Kepala Sekolah tersebut dipanggil untuk dimintai keterangan sebagai saksi dalam kasus dugaan penipuan dan penggelapan, sebagaimana tertuang dalam laporan polisi nomor Nomor LP/8/181/VI/RES 1.11/ 2021 / SPKT pada tanggal 17 Juni 2021.

Kasus dugaan penipuan dan penggelapan tersebut dilaporkan oleh Yohanes Kornelis Talan, S.H., selaku Penasehat Hukum PT. Quantum Penarik, terhadap Roysana Edward Sukanumba dengan total kerugian yang dialami senilai Rp1,311,450.000.

Terlapor merupakan tenaga marketing dari PT Quantum Penarik, yang dipercaya menangani proyek pengadaan BOS afirmasi dan BOS kinerja tahun 2019/2020 di Kabupaten Rote Ndao.

Kendati persoalan sudah masuk dalam tahap penyelidikan, namun Joko demikian sapaan akrab Pengacara Yohanes Kornelis Talan, masih membuka ruang mediasi bagi terlapor, jika terlapor mengembalikan semua uang yang “diembat”.

“Harapan saya sebagai PH dari PT Quantum, semoga ada itikad baik dari Terlapor dan Kepsek yang membayar tidak sesuai, agar segera membayar kembali barang yg sudah di ambil dr PT Quantum,” kata Joko.

Untuk diketahui, 30 Kepala Sekolah yang mendapat surat panggilan terdiri dari 6 Kepala Sekolah SMP dan 24 Kepala Sekolah SD. Semuanya tersebar di Kabupaten Rote Ndao.

Diberitakan sebelumnya, Tenaga Marketing PT. Quantum Penarik, wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), Roysana Edward Sukanumba, dilaporkan ke Polda NTT, Kamis (17/6/2021), karena diduga telah melakukan penipuan dan penggelapan uang perusahaan senilai Rp1,311,450.000.

Roysana resmi dipolisikan Kuasa Hukum PT. Quantum Penarik, Yohanes Kornelius Talan, SH., sebagaimana tertuang dalam laporan polisi nomor Nomor LP/8/181/VI/RES 1.11/ 2021 / SPKT pada tanggal 17 Juni 2021.

Kuasa Hukum PT. Quantum Penarik, Yohanes Kornelius Talan, SH., usai membuat laporan, kepada awak media menjelaskan bahwa terlapor merupakan tenaga marketing dari PT Quantum Penarik, yang dipercaya menangani proyek pengadaan BOS afirmasi dan BOS kinerja tahun 2019/2020 di Kabupaten Rote Ndao.

“Sistem pembayaran yang digunakan seharusnya sistem Siplah. Yakni barang yang dipesan setelah tiba langsung transfer ke rekening perusahaan,” jelas Yohanes.

Namun, yang dilakukan oleh terlapor adalah mengambil uang tunai dari para kepala sekolah yang memesan barang.

“Jadi yang bermasalah saat ini ada 29 sekolah (SD dan SMP) dengan total anggaran Rp1,311,450.000,” jelasnya.
Bahkan menurut Yohanes, pada tahun 2020 lalu, terlapor juga sudah membuat surat pernyataan yang isinya akan melunasi semua keuangan yang belum terbayar paling lambat tanggal 20 November 2021. Namun hingga saat ini terlapor tidak memenuhi janjinya.

“Walaupun sudah ada laporan Polisi, namun jika ada itikat baik dari terlapor untuk mengembalikan uang klien kami yang diduga telah digelapkan maka persoalan ini bisa diselesaikan dengan cara kekeluargaan,” ujar Yohanes.

Menurut Yohanes, apabila tidak ada itikad baik maka pihaknya juga akan melaporkan kepala sekolah yang pembayarannya masih tertunggak , namun telah melakukan pembayaran tunai kepada terlapor.

“Kami anggap ini persekongkolan untuk menggelapkan uang perusahaan, sehingga kami akan ambil langkah hukum,” tegas Yohanes. (MBN01)

Komentar

Berita Terkait