oleh

Perdana Tempati Kursi Pesakitan, Terdakwa Randy Bantah Dakwaan Jaksa

Kupang, NTT

Kasus pembunuhan ibu dan anak dengan korban Astrid Manafe dan Lael Maccabe di penkase Alak, Kota Kupang, akhirnya tiba di meja hijau.

Terdakwa Randy Badjideh alias RB akhirnya merasakan kursi pesakitan untuk pertama kalinya sejak kasus pembunuhan sadis itu bergulir.

Terdakwa Randi dijemput dari Rutan Kupang dan dibawa ke Pengadilan Negeri (PN) Kupang sekira pukul 08.00 Wit, dengan pengawalan ketat dari aparat kepolisian Polresta Kupang Kota.

Terdakwa Randi mengenakan rompi orange dengan kopia warna putih, setelan kaos warna putih dan celana jeans biru lengkap dengan sepatu.

RB didampingi empat orang kuasa hukumnya, yakni Beny Taopan, Yance Thobias Messah, Amos Lafu, Ritha.

Proses persidangan diawali dengan pembacaan berita acara pemeriksaan selanjutnya pembacaan dakwaan oleh jaksa penuntut umum (JPU).

Usai mendengar dakwaan yang dibacakan JPU, terdakwa Randy kemudian diberikan kesempatan untuk menanggapi poin-poin dakwaan yang telah dibacakan.

Pada kesempatan itu, terdakwa membantah beberapa poin dakwaan yang menurutnya tidak sesuai dengan keterangannya yang tertuang di dalam berita acara pemeriksaan.

Menurut Randy, ia tidak pernah memberikan keterangan bahwa setiap kali pertengkaran dengan istrinya Ira, ia selalu mengatakan ingin membunuh Astrid dan anaknya Lael.

“Bahasa-bahasa seperti itu tidak pernah saya sampaikan dalam BAP, maupun saat pertengkaran dengan isteri saya. Apalagi dengan bahasa ‘saya pergi bunuh mereka (Astri dan Lael, red) saja ko?’. Itu tidak pernah saya ucapkan,” ujar Randy dalam persidangan.

“Saya tidak pernah mengatakan bahwa saya yang bekap dan cekik anak Lael Maccabee,” imbuhnya.

Menanggapi hal itu, kuasa hukum keluarga korban Astrid dan Lael, Jo Bangun, mengatakan setiap orang berhak membela diri namun akan dibuktikan dalam agenda sidang selanjutnya.

“Itu hak tersangka. Ini juga baru sidang perdana. Jadi nanti kita akan lihat pada sidang-sidang selanjutnya,” ujar Jo Bangun.

Menurut pengacara dengan ciri khas kepala plontos itu, proses peradilan sudah berlangsung, dengan demikian pihaknya mpercayakan semua kepada pihak kejaksaan dan pengadilan.

“Kita tetap suport dan dukung Pengadilan dan Kejaksaan untuk tuntaskan kasus ini. Hari ini sidangnya berjalan lancar baik,” pungkasnya.

Sementara itu, kuasa hukum terdakwa, Beni Taopan, memgatakan pihaknya bersyukur, pasalnya, perkara ini sudah masuk dalam persidangan dengan agenda pembacaan dakwaan.

ā€¯Pembacaan dakwaan itu dibacakan oleh jaksa itu minimal mengklarifikasi banyak hal yang beredar di masyarakat soal kejadian. Pasal – pasal yang dilekatkan 340, 338, 55 dan UU perlindungan anak. Soal lokus juga disebutkan sebelum masuk ke dakwaannya. Soal tempat dan waktunya dimana, itu clear,” kata Bento

Menyikapi dakwaan yang dibacakan JPU, Benny mengatakan, pihaknya diberi ruang oleh undang – undang untuk mengoreksi apakah dakwaan itu secara formilnya sesuai atau tidak.

“Itu nanti isinya kami akan sampaikan dalam persidangan berikutnya di hari Selasa. Yang pasti, kami bersyukur bahwa ada tanggapan dari Randi langsung bahwa beberapa catatan dari dakwaan itu menurut dia itu tidak benar,” tandas Benny.

Menurut kuasa hukum, kekuatan Jaksa dalam kasus tersebut soal rute GPS, namun kuasa hukum menilai Jaksa tidak punya saksi yang cukup untuk membuktikan proses pembunuhan.

“Dan yang kami dengar bacaan tadi semua itu ya miskin saksi sebenarya, terhadap proses pembunuhannya, siapa yang lihat waktu itu, tidak ada,” kata Benny.

Oleh karena itu, Benny menegaskan bahwa jaksa harus membuktikan gambaran peristiwa pembunuhan tersebut dengan menghadirkan saksi.

“Karena Jaksa sudah memggambarkan soal peristiwa pembunuhan yang tadi sudah dibacakan, kami berharap dia (Jaksa) punya saksi. Karena siapa yang mendakwakan dia yang akan membuktikan dalam persidangan. Kami akan menggali soal kebenaran dari saksi dan punya kualitas pembuktian atau tidak,” tutup Benny.

 

Komentar

Berita Terkait