oleh

Yuliana Konay CS Tegaskan Tidak Pernah Kalah Perkara, Alfons Loemau Dampingi ke Meja Hijau

Kupang, NTT

Kendati gugatan pembagian warisan pada tahun 2015 yang tertuang dalam Putusan Pengadilan Negeri 20/PDT. G/2015/PN Kupang jo Putusan Pengadilan Tinggi 160/PDT/2015/PT yang menolak gugatan yang diajukan Yuliana Konay CS (Yuliana Konay, Markus Konay, Salim Masyur Sitta, Molisna Sitta, Ibrahim Mansyur Sitta, Gerson Konay, dan Henny Konay) ditolak namun Yuliana Konay CS menegaskan bahwa mereka tidak pernah kalah perkara.

“Di dalam putusan nomor 20, tidak pernah menyatakan di amarnya bahwa kelima orang ini kalah. Gugatannya ditolak. Kenapa? Karena yang dibawa waktu itu surat – surat – surat foto copy,” jelas Alfons Loemau.

“Sebaliknya, Dominggus Konay dalam perlawanannya juga tidak dapat diterima oleh Hakim,” sambungnya.

Dengab demikian, menurut Alfons, Putusan 20 tidak menyatakan siapa yang menang atau kalah.

“Karena itu, yang berhak itu sesuai dengan penetapan 17 yakni bapak Markus Konay, membatalkan putusan 02,” katanya.

“Jadi kalau putusan 20 Sisko Sarjana Hukum membaca sepotong dan menerangkan secara tidak lengkap,” imbuh Alfons.

Lebih lanjut dijelaskan, setelah mengumpulkan semua putusan, pihaknya melakukan perlawanan dengan mengajukan gugatan kepada para pihak.

“Kami menggugat semua orang yang menguasai, membeli, menerima, dan penjual, karena apa yang dilakukan tidak secara hukum yang benar atau cacat yuridis,” tegas Alfons.

Jika dasar penguasaan tanah Danau Ina dan Pagar Panjang adalah berita acara eksekusi, maka eksekusi tersebut pada Yohanes Konay.

“Yohanes Konay punya anak ada 6, dan 6 orang ini punya keturunan, dan dia (Marthen Konay) satu dari 6 orang punta turunan,” jelasnya.

Menurut Alfons, jika Marthen Konay mau membagikan warisan tersebut kepada ahli waris lainnya maka tidak akan ada lagi persoalan. (MBN01)

Komentar

Berita Terkait