oleh

Ansy Lema Beri Pemahaman kepada Warga Kota Kupang soal Penanganan Sampah

Kupang, NTT

Sampah adalah permasalahan serius yang terjadi di setiap wilayah urban atau perkotaan, tidak terkecuali Kota Kupang sebagai Ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Kemajuan pembangunan dan laju penduduk selalu diikuti dengan peningkatan produksi sampah.

“Produksi sampah semakin meningkat seiring banyaknya penduduk yang tinggal di Kota Kupang.

Karena itu, kegiatan bimbingan teknis (bimtek) yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) ini sangat penting agar masyarakat tahu bagaimana cara mengurangi dan menangani sampah,” ujar Anggota Komisi IV DPR RI Yohanis Fransiskus Lema, S.IP, M.Si saat membuka kegiatan bimtek sampah di Kota Kupang, Jumat (18/11/2022).

Bangun Kesadaran

Politisi PDI Perjuangan yang akrab disapa Ansy Lema ini mengatakan persoalan sampah di Kota Kupang membutuhkan upaya-upaya konkrit, terutama membangun kesadaran masyarakat akan sampah.

Karena itu, kegiatan bimtek bersama Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Beracun Berbahaya (PSLB3) KLHK sangat penting untuk dilakukan agar tingkat kesadaran masyarakat semakin tinggi.

Menurut Ansy, masyarakat harus menyadari apa dampak dari berbagai tindakan sehari-hari yang membebani penanganan sampah, seperti membuang sampah tidak pada tempatnya dan menggunakan kantong plastik untuk setiap pembelanjaan.

Tanpa disadari, tindakan-tindakan tersebut menjadi tindakan yang tidak ramah terhadap pengurangan sampah.

“Persoalan sampah tidak bisa hanya diserahkan kepada walikota dan dinas lingkungan hidup, tetapi harus merupakan kerja bersama dari seluruh elemen masyarakat. Tidak bisa kerja sendiri-sendiri. Harus kerja bersama dari hulu ke hilir,” pungkas Ansy.

Upaya Konkrit

Untuk menangani persoalan sampah ini, pria dengan jargon Nelayan Tani Ternak (NTT) ini menjelaskan bahwa dirinya akan terus bersinergi dengan Direktorat Jenderal PSLB3 KLHK.

Selama ini, sudah tersalurkan berbagai bantuan yang diberikan untuk menangani sampah di Kota Kupang, seperti motor sampah roda tiga.

Di sisi lain, masyarakat juga harus terus diberikan edukasi mengenai cara mengurangi dan menangani sampah.

Kalau bisa diberikan pengetahuan tentang pengelolaan sampah, sampah bisa diubah menjadi sesuatu yang memiliki nilai ekonomi dan berdaya guna.

“Saya ingin Kota Kupang jadi kota yang bersih dan kota yang bermartabat.

Ini adalah kerja bersama kita, mulai dari saya sebagai aktor legislatif hingga masyarakat awam dalam skala rumah tangga,” jelas Ansy.

Kepala Sub Koordinator Pengurangan Sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Kupang Imanuel Menoh menambahkan jumlah produksi sampah di Kota Kupang per harinya adalah 280 ton.

Produksi sampah yang tinggi ini tidak diimbangi dengan kapasitas penanganan sampah yang ada di Kota Kupang.

“Kita mengalami persoalan 3M, yaitu man, machine, dan money. Man adalah kita kurang manusianya.

Dengan sampah 280 ton per hari, petugas kita hanya 330 orang. Machine terkait dengan armada. Dengan 51 kelurahan kita hanya memiliki 34 mobil dam truk dan 8 mobil angkut. Lalu money yaitu uang.

Ketika dikasih mobil tetapi anggaran tidak ada, kita mau isi bensin mobil sampah pakai apa,” terang Imanuel dalam kata sambutannya.

Karena itu, dirinya mengakui harus ada keberpihakan yang jelas dari pemerintah untuk bisa menangani persoalan 3M ini.

Ditambah, masyarakat juga harus sadar akan bahaya sampah yang semakin meningkat di Kota Kupang.

Di sisi lain, Pengendali Dampak Lingkungan Ahli Madya Direktorat Penanganan Sampah PSLB3 KLHK R. Teddy Setya Mahendra menerangkan bahwa penanganan sampah di Indonesia masih tergolong sederhana, yakni pungut, angkut, dan buang.

“Pola pikir masyarakat tentang sampah adalah sesuatu yang tidak berguna sehingga harus dibuang.

Padahal, sampah bisa diolah menjadi sesuatu yang berguna. Kondisi ini diperparah dengan gaya hidup masyarakat yang masih memaksimalkan sampah.

Kita harus beralih ke gaya hidup minim sampah,” tutup Teddy.

Komentar

Berita Terkait