oleh

Kisah Pilu Guru Honor SMP Satap Tenelai di Hari Kemerdekaan

Rote Ndao, NTT

Guru merupakan sebuah profesi mulia yang memanusiakan manusia. Bupati, Anggota DPR, Polisi, Jaksa dan profesi lainnya, tidak akan sehebat saat ini jika tidak ada guru.

Bayangkan, jika Bupati, DPR dan profesi lainnya, tidak bersekolah dan tidak dibimbing oleh GURU. Apa jadinya?

Guru sering dijuluki pahlawan tanpa tanda jasa. Tidak ada bintang atau bulan yang disematkan sebagai bentuk apresiasi.

Sebuah potret menyedihkan dunia pendidikan tergambar di SMP N Satap Tenelai, Kecamatan Landu Leko, Kabupaten Rote Ndao.

Sekolah ini berada di sebuah pulau kecil bernama Pulau Usu. Pulau ini terletak di ujung Timur Pulau Rote.

Sekolah yang letaknya jauh dan terisolasi di pedalaman Kabupaten Rote Ndao ini, mengasuh 30 orang anak bangsa. Namun hanya 2 orang guru.

Henderina Seseli, S.Pd, merupakan satu – satunya guru yang menopang keberlangsungan sekolah ini. Betapa tidak, Kepala Sekolah tinggal di Pulau Rote, sehingga kadang tidak ke sekolah karena cuaca buruk dan sulit menyeberang ke pulau Usu.

Tak hanya mengajar, Henderina harus berperan sebagai pemimpin untuk menolong anak – anak di kampung halamannya. Henderina merupakan putri terbaik Pulau Usu.

Kendati demikian, nasib baik belum berpihak pada srikandi dunia pendidikan ini.

Tahun 2016, Henderina sempat diakomodir sebagai tenaga kontrak daerah. Ia sangat bahagia kala itu. Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Tahun 2018 namanya hilang dari daftar tenaga kontrak daerah.

“Saya kaget nama saya hilang saat pengumuman tenaga kontrak daerah tahun 2018. Saya pasrah, saya berpikir mungkin bukan rejeki saya,” ujar Henderina berlinang air mata, mengisahkan suka duka perjalanannya memanusiakan manusia di kampung halamannya.

Kendati tidak diakomidir sebagai tenaga kontrak daerah, tak sedikitpun membuat Henderina patah arang.

Baca Juga:  Resmi Jadi Plh, Jonas Selly Siap Sukseskan Pelantikan Bupati Rote Ndao

“Walaupun saya tidak digaji tapi tidak memudarkan saya punya semangat untuk mengajarkan anak-anak karena demi masa depan mereka,” ujar Henderina.

Sejak saat itu, Henderina mengabdikan dirinya sebagai tenaga guru sukarela di SMPN Satap Tenelai, hingga saat ini.

Guru Henderina bukan hanya disebut pahlawan tanpa tanda jasa tapi tanpa apresiasi.

Untuk menopang kehidupannya, Henderina membuka sebuah kios kecil. Hasilnya memang tidak seberapa, namun bisa dugunakan untuk sekadar bertahan hidup.

Henderina rela melakukan semua itu, demi mewujudkan merdeka belajar bagi anak – anak di kampung halamannya.

“Di HUT RI ini, saya berharap kalau bisa Pemda bisa memperhatikan ini dan rekrut tambah tenaga guru supaya anak-anak mendapatkan pendidikan yang layak, karena Kadang kalau pak kepsek tidak masuk maka saya sendri yang mengajar dari kelas satu sampai kelas tiga,” pinta Hennderina.

Laporan : Mekris Ruy (Kontributor MBN Rote Ndao)

Komentar

Berita Terkait