Kupang, NTT
Bisnis “daging kumis” makin trend di kota Kupang. Entah hal ini merupakan tanda bahwa Kota ini sedang bertumbuh menjadi kota metropolitan atau kota ini makin edan.
Betapa tidak, bisnis “daging kumis” online (prostitusi online, red) bertumbuh subur tanpa hambatan.
Dulunya, pedagang daging kumis yang terlokalisir di lokalisasi karang dempel (KD) kebanyakan berasal dari luar NTT.
Namun kini, “pucuk – pucuk” muda lokal mulai berseliweran di jagat maya, menawarkan kenikmatan “daging kumis”.
Penulis mencoba berselancar di sebuah “toko” online terhits, guna memastikan salah satu penyebab ambruknya moralitas di kota ini akibat bisnis “daging kumis” yang melibatkan “Rafflesia Arnoldii” kota karang.
Saat berkomunikasi dengan salah satu akun michat, sebut saja *Meoana. Akun tersebut menawarkan “daging kumis” dengan harga Rp800 ribu, namun setelah tawar menawar, turun menjadi Rp300 ribu.
Meoana kemudian mengirimkan beberapa foto cewe, sebut saja Bahenol. Yach, lumayan cantik (mirip artis korea) hasil ciptaan kamera beauty.
Tak berhenti di situ, penulis kembali berselancar dan berkomunikasi dengan Meoana menggunakan akun michat lain.
Harga yang ditawarkan Meoana masih sama, yakni Rp800 ribu. Namun kali ini penulis lebih ekstrim melakukan penawaran yakni Rp200 ribu dan akhirnya Meoana setuju.
Seperti biasa, Meoana mengirimkan beberapa lembar foto, namun kali ini berbeda dengan foto sebelumnya. Walaupun sudah dipaksakan dengan kamera beauty namun hasilnya masih tetap ‘batu karang’.
“Pantas berani banting harga,” gumam penulis dalam hati.
Tak diduga Kakarlak (penikmat daging kumis) pun tiba di kediaman penulis.
Untuk memastikan akun Meoana dikendalikan oleh Saudagar daging kumis (Germo/ mucikari), penulis meminta Kakarlak untuk berkencan dengan salah satu gadis yang ditawarkan Meoana.
Dibekali Rp300 ribu, Kakarlak meluncur ke salah satu hotel di bilangan Penfui, tempat mangkal para penjual “daging kumis”.
Sekira 1,5 jam, Kakarlak kembali dengan senyum puas namun tersipu malu sambil menjepit sebatang rokok di jarinya.
“Kaka, makasih banyak, uang 300 tadi sudah habis, misi berjalan lancar,” ujar Kakarlak sembari menyedot asap rokoknya dalam – dalam.
Dia menjelaskan bahwa saat bersama Bahenol, gadis yang mengaku baru berusia 17 tahun itu, di hotel F, banyak informasi diperoleh.
“Dia (Bahenol) bilang akun Meoana itu dikendalikan oleh seorang remaja pria bernama CP,” ujar Kakarlak.
Lebih lanjut Kakarlak menjelaskan, CP merupakan seorang remaja tanggung yang usianya berkisar 19 tahun.
“CP ini punya 5 cewek, yang usianya rata – rata 17 – 19 tahun dan semuanya ‘orang lokal’,” terang Kakarlak.
Selain CP, lanjut Kakarlak, ada Seorang gadis, namanya PS (18), yang juga merupakan Saudagar daging kumis (Mucikari)
“PS punya 5 personil. Selain sebagai saudagar, PS juga “melayani” pria hidung belang,” Kata Kakarlak.
Wilayah operasi personil CP dan PS lebih banyak di hotel F******n. Namun kadang beroperasi di beberapa homestay di bilangan penfui dan Oesapa.
Menurut pengakuan Bahenol melalui Kakarlak, Beberapa dari mereka terjerumus ke dalam lembah hitam itu karena desakan ekonomi. Namun ada juga yang akibat dari salah pergaulan.
“Germo juga jahat, kalau sonde (tidak) mau ‘layani’ tamu, dia pukul sampai merayap,” ujar Kakarlak menirukan pernyataan Bahenol.
Selain praktek jual beli lendir menggunakan jasa Mucikari, ada banyak pedagang “daging kumis” yang berjualan secara mandiri menggunakan aplikasi “seksi” itu.
Ironisnya, bisnis ini sepertinya mendapat restu hingga tak tersentuh oleh pihak mana pun. Prostitusi online yang melibatkan pelajar ini tidak pernah terusik, baik oleh pemerintah maupun aparat keamanan.
Penertiban lokalisasi pada tahun 2019 meninggalkan sebuah cerita usang, di mana pemerintah kala itu menggadang – gadang akan menutup sebuah hotel dibilangan pasir panjang, yang sudah menjadi rahasia umum, bahwasanya tempat tersebut merupakan lokasi esek – esek berkedok hotel.
Namun hingga saat ini, cerita usang itu tak pernah ada ujungnya.
Selain itu, Prostitusi berkedok Pitrad pun tetap nyaman beroperasi. Bahkan dijadikan aset dinas pariwisata. Mungkin PAD yang diperoleh dari bidang ini cukup baik. Entahlah! (MBN01)


Komentar