oleh

Kisah Sukses Petani Milenial di NTT, Raup Ratusan Juta di Lahan Kering

TTU, NTT

Petani dan Milenial merupakan dua kata yang sangat kontradiktif di era modern yang serba digital saat ini. Profesi petani kadang dianggap sebagai profesi yang identik dengan kuno, kotor, kumuh, dan tidak menghasilkan banyak uang. Oleh karena itu, kaum milenial khususnya yang berpendidikan tinggi pada umumnya memilih menggeluti pekerjaan lain ketimbang menjadi petani.

Namun, anggapan miring soal profesi petani berhasil ditepis oleh seorang anak muda bergelar sajana pendidikan dari Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU).

Yosep Juan Heli, S.Pd, demikian nama lengkap petani milenial di desa Noebaun, Kecamatan Noemuti, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Yosep berhasil menyulap lahan kering seluas 40 are menjadi “Firdaus” yang dipenuhi buah – buahan dan sayuran dengan omset mencapai ratusan juta rupiah setiap tahun.

Anak muda yang sejak awal mengenyam pendidikan, bercita – cita menjadi seorang guru, kini menjadi “guru” bagi masyarakat di bidang pertanian khususnya tanaman holtikultura.

Yosep mengisahkan, setelah menamatkan pendidikannya Ia pernah menjadi tenaga honorer di sebuah istansi pemerintah, namun suatu ketika Ia memilih mundur dan berwirausaha.

“Ketika itu saya merasa, kok hidup saya begini – begini saja, honor terus tanpa kepastian, kalau begini terus sulit, mending saya berhenti dan berwirausaha,” kata Yosep.

Yosep kemudian bergabung dengan beberapa temannya di Kabupaten TTS, menjalani profesi baru sebagai petani khusus di bidang holtikultura.

“Kami satu kelompok tani anak muda semua, kami mengolah lahan seluas 80 are,” ungkapnya.

Sukses mengelola lahan tersebut, Yosep kemudian dipercaya oleh sebuah NGO asing yang bergerak di bidang pertanian menjadi pendamping lapangan.

“Saya menjadi pendamping pertanian di 2 Kabupaten, yakni Kabupaten TTS dan TTU,” tandasnya.

Kecintaan Yosep terhadap dunia pertanian makin kuat. Sebagian penghasilannya sebagai pendamping pertanian Ia sisihkan untuk modal bertani.

“Tahun 2014 saya memutuskan untuk mengelola lahan sendiri. Modal awal saya sekitar Rp3 juta,” katanya.

Menurutnya, semua masih dilakukan secara manual. Mulai dari pengolahan lahan, penyiraman dan lainnya.

“Hasilnya belum terlalu maksimal, tetapi saya kumpulkan sedikit – demi sedikit untuk membeli fasilitas pertanian yang lebih baik,” katanya.

Tahun 2017, Ia mulai menggunakan teknologi irigasi tetes di lahan kering sekitar 40 are. “Modal dasar untuk membeli peralatan sekitar Rp40 juta,” tandas Yosep.

Menurutnya, teknologi irigasi tetes sangat cocok dikembangkan di NTT karena tidak membutuhkan banyak air.

“Sistem pertanian ini lebih bagus karena hemat air, hemat tenaga dan hemat waktu,” terangnya.

Diatas lahan seluas 40 are, Yosep menanam berbagai jenis tanaman holtikultura disesuaikan dengan kondisi iklim.

“Kalau musim hujan saya tanam lombok, tomat, dan berbagai macam sayuran,” katanya.

“Jika di musim panas saya budidaya tanaman buah – buahan seperti Semangka Tanpa Biji, Golden Mama, Ketimun dan Melon dan juga sayuran,” sambung Yosep.

Sedangkan pupuk yang digunakan untuk menyuburkan tanaman, kata Yosep, adalah pupuk organik.

“Kami gunakan pupuk bokasi, bahan baku tentu dari lingkungan sekitar, seperti kotoran ternak, kompos, sayur – sayuran atau buah – buahan yang rusak, semua kita racik menjadi pupuk, ini juga sangat baik untuk menjaga unsur hara tanah dan tentu tudak bahan kimia sehingga baik untuk kesehatan manusia,” jelasnya.

Dengan modal keberanian dan tekad yang kuat, Yosep menyulap lahan tandus kering dan berbatu seluas 40 are menjadi kebun yang subur dan bernilai ekonomi tinggi.

“Saya tanam 10 ribu tanaman setiap musim tanam. Saat panen, setiap tanaman itu menghasilkan minimal Rp5 ribu, sehingga sekali panen bisa mencapai Rp50 juta,” ungkap Yosep.

“Satu tahun itu saya tanam tiga (3) kali, sehingga dalam setahun penghasilan saya bisa mencapai Rp150 juta,” imbuh Yosep.

Saat ini, penjualan dilakukan secara online guna mencegah penyebaran COVID-19, dan penjualan masih di sekitar wilayah Kabupaten TTU.

Dia mengimbau seluruh generasi muda untuk tidak hanya berpikir menjadi pegawai negeri sipil atau tenaga kontrak dan sejenisnya, tetapi memanfaatkan potensi yang ada untuk membangun diri dan daerah ini.

“Honor – honor tidak jelas buat apa, mari kita bangun daerah kita dari potensi yang ada. Lebih baik menjadi petani yang berhasil dari pada terus menyalahkan pemerintah karena tidak ada lapangan kerja. Kita sendiri yang harus ciptakan lapangan kerja untuk diri kita,” tegas Yosep.

Dia berharap pemerintah memperhatikan para petani dengan fasilitas yang lebih modern sehingga petani tidak hanya menjadi petani konsumtif tetapi produktif.

Penulis : Novi Maudemu (Kontributor MBN TTU)

Komentar