Kupang, NTT
Pekerjaan ruas jalan Kokar – Tulta – Mali di Kabupaten Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang menelan anggaran Rp11.700.000.000, bersumber dari Dana Pinjaman Daerah, diduga dikerjakan asal jadi sehingga masyarakat pemanfaat jalan tersebut menjadi berang sehingga bersurat kepada Gubernur NTT.
Dalam surat yang dikirim ke Gubernur NTT, Viktor B Laiskodat dan Dinas PUPR Provinsi NTT, pada 22 Februari 2021 lalu, digambarkan berbagai persoalan yang timbul akibat pekerjaan jalan yang diduga pengerjaannya tidak sesuai bestek itu.
Warga Kokar, Imanuel Anie, kepada awak media, Sabtu (20/3/2021) mengatakan, kualitas drainase yang dikerjakan PT. Karya Baru Calisa sangat buruk dan difuga tidak sesuai dengan bestek.
Menurut Imanuel, kendati batu selesai dikerjakan, namun drainse tersebut rusak digerus air saat hujan. Hal itu, menurut dia, karena kualitas campuran dan jenis batu yang digunakan tidak sesuai spek.
“Batu yang mereka pakai batu kapur, batu karang, bukan batu bulat atau batu kali sehingga saat hujan, langsung rusak. Lalu sekarang ditambal lagi oleh kontraktor,” ujarnya.
Selain masalah teknis, menurut Imanuel, Kontraktor tebang pilih dalam melakukan penggusuran lahan.
Dia mempertanyakan alasan lahan sekitar 300 meter di sisi jalan yang tidak ikut digusur.
“Kalau mau gusur, ya gusur semua. Kami sudah rela lahan kami digusur untuk pembangunan, tapi kenapa yang lain tidak digusur? Kami merasa ada ketidakadilan,” katanya.
Selain bersurat ke Gubernur NTT, pihaknya juga sudah mengadukan masalah tersebut ke pemerintah desa, lurah dan camat pada 14 November 2020 lalu dan juga Ketua DPRD Alor.
“Saat mengadu ke DPR, ketua DPR langsung telepon kontraktornya untuk segera cari solusi, tapi sampai sekarang belum ada respon,” katanya.
Ia mengatakan, saat pengerjaan berjalan, kontraktor pelaksana malah membongkar material drainase lama dan dibawa pulang. Kontraktor lalu menggantinya dengan batu kapur.
“Masyarakat mendukung program pemerintah tapi jika kontraktor tidak jaga kualitas, kami akan tolak. Proyek asal-asalan kami yang rugi. Kami berterimakasih pemerintah sudah bangun kampung kami. Kami rela lahan kami digusur, tapi kontraktor malah kerja asal-asalan,” ungkapnya.
“Ini baru drainase, jangan sampai hingga ke kualitas pengaspalan juga sama, itu yang kami khawatir,” pungkas Imanuel.
Ia berharap dinas terkait segera turun ke lokasi memantau langsung pengerjaan itu.
Senada, Kristian, mengaku, sudah puluhan tahun warga menantikan proyek jalan. Namun mirisnya, proyek tersebut malah mengecewakan.
“Menurut kontraktor drainse disitu masih baik. Padahal, yang baru dikerjakan sekarang malah tidak bagus khawalitasnya. Lebih baik drainase lama dari pada drainase baru,” katanya.
Ia mengaku warga sudah bertemu camat Abal mengadukan persoalan tersebut. Kepada warga, camat mengaku pemilik lahan sepanjang 300 meter tidak mau lahannya digusur, dengan alasan tidak diundang saat sosialisasi.
Dia berharap, keluhan mereka bisa mendapat respon dari pemerintah provinsi agar anggaran belasan Miliar tidak mubasir begitu saja, namun bermanfaat bagi warga Kokar dan sekitarnya.
Terpisah, konsultan pengawas CV. El Emunah, Ento Atalehi saat dikonfirmasi wartawan terkait keluhan warga, Sabtu (20/3/2021), menolak berkomentar. Ia mengaku tidak mau memberi keterangan karena tidak mengenal wartawan yang mengkonfirmasinya. Padahal, sebelum bertanya, wartawan sudah memperkenalkan nama lengkap dan nama media.
“Maaf, persoalannya saya tidak mengenal kamu. Apa benar kamu wartawan atau bukan,” ujarnya singkat. (MBN01/tim*)


Komentar