oleh

Rian Seong, Sosok di Balik Pemenang Ke-2 Lomba Sendratari Tingkat Nasional

Kupang, NTT

SMK Kristen Fautmolo, sebuah sekolah yang jauh di pedalaman kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), mengukir prestasi gemilang di bidang seni drama dan seni tari dalam lomba Sendratari tingkat Nasional.

Para penari yang mampu menyita perhatian juri di Ibukota Negara itu, ternyata adalah anak – anak desa yang tinggal jauh dari keramaian kota.

Kaeneno, begitulah nama desa di kecamatan Fautmolo, Kabupaten TTS, tempat asal para seniman yang mampu meraih juara dua (2) lomba Sendratari tingkat Nasional.

Jika dilihat dari kondisi geografis, , mungkin sebagian orang tidak akan percaya jika juara nasional berasal dari Kaeneno.

Betapa tidak, daerah itu benar – benar bernuansa perkampungan. Hutan membentang luas diatas perbukitan, suara burung bersahutan dan desiran angin menghantam dedaunan.

Tak ada jaringan telekomunikasi. Akses jalan pun sangat sulit, namun dari tempat itulah sejarah mencatat bahwa NTT menjuarai lomba Sendratari Tingkat Nasional.

Keberhasilan itu tidak terjadi begitu saja. Ada seorang pria muda yang punya andil cukup besar.

Marianus Seong Ndewi, S.Pd., M.M., demikian nama lengkap penulis naskah yang menyutradarai Sendratari
Bife Kolo SMK Kristen Fautmolo, Timor Tengah Selatan.

Karena kecintaannya terhadap seni, Rian, demikian sapaan akrab Marianus Seong, rela menempuh jarak ratusan kilometer untuk membimbing anak – anak Kaeneno.

Pria yang berprofesi sebagai guru di SMA Negeri 4 Kupang ini, bahkan rela setiap minggu menginap selama 3 hari di perkampungan nan sunyi itu.

“Setia minggu saya ke Kaineno, nginap 3 hari baru kembali Kupang. Minggu berikutnya sama, jd sekitar 9 hari saya nginap di Kaeneno, kemudian 1 minggu kami latihan dI SoE sekalian take video,” kata Rian, kepada www.metrobuananews.com beberapa waktu lalu.

Untuk membuat materi yang baik, kata Rian, ratusan referensi Ia baca, mulai dari cerita rakyat, dan referensi soal kehidupan sosial, politik dan budaya penduduk Kaeneno.

“Pada akhirnya saya memilih kisah mitologi tentang seekor burung Cikuakua Timor (Philemon Inornatus) yang keberadaannya hampir punah,” ungkap Rian.

Menurut Rian, legenda tentang “Bife Kolo” (Wanita Burung) dipilih sebagai materi Sendratari karena memiliki pesan moral yang cukup banyak.

“Dalam cerita ini, ada seorang gadis yang dikutuk oleh ibunya, karena tidak ingin anaknya diganggu oleh lelaki “hidung belang”, anaknya itu menjadi seeokor burung yang cantik, (burung itu masih ada hingga saat ini di pedalaman Timor tapi hampir punah). Dalam perannya, gadis yang berubah menjadi burung, memantau alam sekitar, mulai dari penebangan hutan, perkelahian, dan berbagai masalah sisoal lainnya, Ia kemudian mengajarkan manusia untuk memperbaiki semua kerusakan maupun persoalan, dan pada akhirnya diikuti, Mutis kembali hijau dan masyarakat hidup berdampingan,” Rian mengurai sinopsis legenda Bife Kolo.

“Ada pesan tentang pelestarian budaya, politik, sosial, bahkan ekologi. Kita harus melestarikan alam dan lingkungan sekitar sebagai sumber kehidupan,” imbuhnya.

Untuk bersaing dengan 40an kontestan dari seluruh Indonesia, Rian mengaku, awalnya cukup cemas, apalagi berhadapan dengan peserta dari pulau Jawa dan Bali yang notabene sangat piawai soal Sendratari.

“Yang kami lakukan adalah menampilkan keaslian dari cerita maupun gerakan. Kekurangan – kerurangan masyarakat pedesaan kita ditampilkan di karya itu. Tentang sejarah dan masalah sosial kita ‘combain’ di dalam, dan tidak berusaha membuatnya menjadi modern tetapi lebih kepada kontemporer,” tandasnya.

Setelah sebulan bergulat dengan kondisi jalan yang tidak bersahabat dan jarak tidak mengenal ampun, Rian dan tim Sendratari SMK Kristen Fautmolo akhirnya dinyatakan sebagai pemenang kedua dalam ajang bergengsi tersebut.

Awalnya Rian sempat merasa kecil berhadapan dengan tim Sendratari yang sudah jauh berpengalaman. Bahkan ketika itu Ia hanya mematok target pada lima (5) besar. Namun Dia tetap menyemangati diri dan timnya, bahwa secara ekonomi mungkin NTT tertinggal, tetapi tidak untuk kreativitas.

“Hanya satu kata untuk pencapaian ini, Terbayar. Ternyata NTT bisa. Pokoknya terharulah, kita dari kampung tapi bisa menjadi juara,” ujar Rian berkaca – kaca, mengenang proses mencapai prestasi itu.

Dia berharap, pemerintah dapat membuka ruang bagi anak – anak NTT untuk mengembangkan kreativitas yang dimiliki. (Nyongky)

Komentar