oleh

Dua Lembaga Pendidikan Yapenkris Mau Diambil Alih, Pengelola Tegas Menolak

SoE, NTT

Dua lembaga pendidikan yang bernaung di bawah Yayasan Pendidikan Kristen (Yapenkris) Tois Neno, yakni SMP Kristen 1 Amanuban Barat dan SMA Kristen Manek To Kuatnana, di Desa Tetaf , Kecamatan Kuatnana, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), hendak diambil alih oleh yayasan lain pasca meninggalnya Samuel Laoe, S.H., kepala sekolah pada dua sekolah tersebut.

Organ Yapenkris Tois Neno, dengan tegas menolak rencana pengambilalihan sekolah dimaksud.

Ketua Yapenkris Tois Neno, Marthinus H. Banunaek, B.A., kepada awak media, Rabu (3/3/2021) mengatakan surat dari Yayasan Sonaf Pencerdasan Usif Napoleon Faot, dengan Nomor Surat : 001/Y. Napo/II/2021, Perihal: Mohon Pamit., dinilai sebagai bentuk pencaplokan terhadap Yapenkris Tois Neno. Pasalnya, dalam surat tersebut Yayasan Sonaf Pencerdasan Usif Napoleon Faot dengan semena – mena memgalihkan segala aset yang bergerak maupun tidak bergerak menjadi hak dan wewenang yayasan tersebut.

Yapenkris Tois Neno membalas surat Yayasan Sonaf Pencerdasan Usif Napoleon Faot, yang isinya dengan tegas menolak karena secara hukum legalitas SMP Kristen 1 Amanuban Barat dan SMA Kristen Manek To Kuatnana adalah milik Yapenkris Tois Neno (GMIT) berdasar atas akta pendirian Yayasan Pendidikan Kristen Tois Neno nomor 97 tahun 2011 dan keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia , Nomor : AHU – 7218. AH. 01. 04. Tahun 2012 Tentang pengesahan akta pendirian Yayasan Pendidikan Kristen Tois Neno Kabupaten Timor Tengah Selatan, dan sekolah-sekolah tersebut tercatat di Kementerian pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia sebagai sekolah Swasta yang bernaung di Yapenkris Tois Neno, sedangkan PAUD Mawar Oepuah kami tidak berkewenangan karena tidak bernaung di Yapenkris Tois Neno.

Dengan demikian, Yayasan Sonaf Pencerdasan Usif Napoleon Faot tidak memiliki hak dan kewenangan atas segala aset yang bergerak maupun tidak bergerak yang ada di SMP Kristen 1 Amanuban Barat dan SMA Kristen Manek To Kuatnana Karena yang berhak dan berkewenangan atas aset di Sekolah Kristen GMIT adalah tercatat sebagai hak milik Gereja Masehi Injili di Timor.

Ketua Yayasan Sonaf Pencerdasan Usif Napoleon Faot, Drs. Habel Hitarihun yang dikonfirmasi melalui sambungan telpon seluler, Rabu (3/3/2021) membenarkan niat menarik diri dari Yapenkris Tois Neno.

Habel menjelaskan, surat yang diberikan itu sebagai pemberitahuan dan pihaknya tidak ada niat untuk meminta persetujuan dari Yapenkris.

“Sedikit pun tidak ada niat untuk meminta persetujuan dari Yapenkris. Mau setuju atau tidak setuju, sudah saatnya kami berdiri sendiri.”

Ia mengatakan, semua prestasi Sekolah selama ini merupakan hasil kerja keras mereka. Yayasan dinilai tidak punya andil dalam semua pencapaian itu.

“Oleh karena itu, sangat wajar kami pamit dari Yapenkris “, jelasnya.

Sehingga Ia secara tegas mengatakan, Yayasan dan GMIT tidak berhak atas aset milik kedua sekolah itu.

“Kami bernaung, bukan menyerahkan diri kepada Yapenkris. Waktu itu Yupenkris”, kata Habel.

Habel mengatakan, saat bertemu dengan Marthinus Banunaek selaku Ketua Yapenkris Tois Neno untuk memberikan surat permohonan pamit itu, Banunaek menjelaskan, pihak GMIT terbuka kepada siapa saja yang ingin membangun Yayasan.

Karena itu, mereka diarahkan untuk bertemu dengan Majelis Sinode GMIT. Saat bertemu dengan Majelis Sinode GMIT, Habel menjelaskan, terjadi ketegangan, sebab GMIT tidak mau melepaskan kedua Sekolah itu.

“Pihak Sinode tidak menyetujui karena semua aset itu adalah milik GMIT. Saya kaget, sejak kapan jadi aset GMIT”, kata Habel.

Ia juga menilai, pernyataan dari Yapenkris Tois Neno yang menyebut pihaknya mencaplok aset Yapenkris Tois Neno adalah sebuah kesalahan.

“Kalau sekarang gereja atau pihak lain yang mengklaim bahwa kami menahan aset GMIT, lalu kami dipaksa untuk menyerahkan, apanya yang harus diserahkan? Lalu surat dari Yapenkris yang menganggap kami mencaplok. Kok bisa mencaplok barang sendiri”, ujarnya heran.

Untuk sementara, pihaknya menunggu sikap dari majelis Sinode GMIT. Dan apabila Sinode tidak ingin menyerahkan kedua Sekolah itu, Habel mengisyaratkan menempuh langkah lain guna mendapatkan aset kedua Sekolah itu.

“Semua masih berproses, Kalau GMIT tidak menyerahkan aset, itu ceritanya nanti berbeda”, kata Habel. (Daud Nubatonis)

Komentar