Humaniora

TCP Dibalik Geliat Tenun Ikat dan Duka Penenun NTT

Bagikan :

Metrobuananews.com | Kupang – Lembaran kain tenun ikat Nusa Tenggara Timur (NTT) kian diminati namun dibalik geliat kain tradisional milik masyarakat NTT itu ada duka berbalut senyum para penenun.

Betapa tidak, harga kain tenun sangat mahal di pasaran namun berbanding terbalik dengan kondisi ekonomi para penenun. Sungguh miris.

Melihat realita tersebut, komunitas Timor Creative People (TCP) berupaya hadir menata asa para pengrajin tenun ikat.

Timor Creative People (TCP), adalah sebuah komunitas yang consern pada dunia modeling dan fashion, dimana komunitas ini selalu memberi sentuhan bernuansa tenun ikat dalam setiap karya mereka.

Kendati masih belia, namun kreativitas dan eksistensi anak – anak muda yang tergabung dalam TCP menunjukan sebuah keseriusan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Berbagai jenis kegiatan dilaksanakan untuk memperkenalkan tenun ikat NTT ke seluruh pelosok Indonesia dan memasyarakatkan tenun ikat bagi masyarakat NTT.

“Visi misi kami adalah mempromosikan  tenun ikat. Pada prinsipnya memberikan perhatian pada tenun ikat secara tidak langsung memberdayakan  ibu – ibu penenun, baik perorangan maupun dalam kelompok usaha”, kata Erwin Yuan, koordinator TCP, pada acara fashion show di Celebes Resto Kupang, Sabtu (22/9/2018).

Dia menjelaskan bahwa TCP pada intinya mempromosikan tenun ikat dengan fashion show sehingga tenun ikat dalam berbagai motif dan desain terekspos dengan baik.

“Dalam setiap event fashion show kain tenun ikat aneka motif dari seluruh NTT yang dipadupadankan dalam karya para designer dipromosikan sehingga terimplisit pengrajin tenun ikat, designer, fotografer dan para pengusaha tenun ikat diberdayakan, ekonomi pun bertumbuh”, jelas Erwin.

Menurut Erwin, TCP tidak hanya mempromosikan tenun ikat melalui fashion show, tetapi berafiliasi dengan kelompok pengrajin tenun ikat dan mempromosikan hasil karya mereka (Penenun) melalui media sosial.

Baca Juga:  Politeknik Negeri Kupang Akan Gelar Cerdas Cermat Pariwisata

“Kami bermitra, saling mengisi dan mempromosikan”, tegasnya.

Dia menambahkan TCP berupaya merubah persepsi masyarakat terhadap tenun yang terkesan berat dan kuno menjadi sebuah trend life style tenun dengan berbagai macam gaya sesuai dengan kebutuhan masing-masing orang.

“TCP berharap tenun dapat menjadi identitas diri masyarakat NTT seperti dahulu kala dimana tenun dipakai dalam keseharian masyarakat maupun dalam acara formal atau upacara adat”,  pungkas Erwin.

Terpisah, seorang pengrajin tenun ikat, Thobias Lomi Ratu, kepada awak media beberapa waktu lalu mengatakan, kendala terbesar yang dihadapi adalah pemasaran.

“Untuk menghasilkan 1 lembar kain membutuhkan waktu yang cukup lama dengan tingkat kesulitan yang cukup tinggi,  sayangnya harga kain tenun masih jauh dari harapan”, ungkapnya.

Dia sangat berterimakasih dengan kehadiran TCP yang memberikan angin segar dengan membantu mempromosikan kain tenun lewat berbagai event.

“Saya harap pemerintah dapat memberdayakan kami (penenun) dengan memberikan modal usaha dan membantu pemasaran hasil karya kami”, pinta ama Tobi, sapaan akrab Thobias Lomi Ratu. (MBN01)

11 Views
Bagikan :