Geliat Pesona Tenun Ikat dari Tangan Terampil Ama Tobi

0
922

Metrobuananews.com | Kupang – Ama Tobi dan pesona tenun ikat ibarat dua (2) sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan.

Tenun ikat seakan enggan berbinar jika tak dibelai tangan terampil Ama Tobi. Sebaliknya hidup Ama Tobi serasa tak bermakna jika tak bergurau dengan aneka warna benang.

Lelaki unik nan terampil ini begitu menyatu dengan tenun ikat khas Nusa Tenggara Timur (NTT).

Tak ada yang menyangka jika seorang pria yang pada hakekatnya kasar dengan jari jemari yang kaku, mampu menyusun helai demi helai benang menjadi kain yang bernilai estetis.

Ama Tobi saat mengikuti festival tenun ikat

Thobias Lomi Ratu demikian nama lengkap Ama Tobi, telah menekuni pekerjaan sebagai pengrajin tenun ikat sejak berusia 17 tahun hingga kini sudah menginjak usia 39 tahun.

Kecintaannya terhadap alam,  mendorong Ama Tobi untuk mewarnai tenun ikatnya dengan pewarna alam yang diambil dari berbagai jenis daun, akar dan umbi – umbian. Semuanya natural dan ramah lingkungan.

Tak heran jika pria penenun ini pernah diboyong Ibu Negara, Iriana Joko Widodo ke istana Negara dengan membawa serta bahan – bahan pewarna alam.

Bukan karena keunikan Ama Tobi, tetapi pesona karya – karyanya mampu menembus dinding rasa ibu negara

Tak hanya itu, keindahan kain tenun sentuhan Ama Tobi sudah menggeliat hingga ke mancanegara.

Jika sekilas dilihat, motif yang menempel pada setiap helai kain tenun ikat karya Ama Tobi, baq lukisan yang menyimpan sejuta cerita. Ama Tobi memang pandai bercerita dalam diam.

Peserta fashion show festival tenun ikat, dalam sebuah cerita

Untuk menghasilkan 1 lembar kain yang indah, butuh waktu yang cukup lama, mulai dari proses peminyakan benang hingga menjadi kain, memakan waktu bertahun – tahun. Itulah alasan mengapa harga kain tenun ikat pewarna alam mahal.

“Proses warna alam itu makan waktu, peminyakan tahun ini, nanti tahun depan baru jadi kain tenun, tapi bukan proses satu – satu kain, biasanya banyak, misalnya sekali proses 25 lembar”, ungkap Ama Tobo, saat ditemui di panggung seni budaya pantai Lasiana, Sabtu (11/8/2018), dalam kegiatan festival tenun ikat.

Dalam sebulan, ayah dari 4 orang anak ini, mampu memproduksi 4 lembar kain tenun ikat.

“Saya jual di rumah saja kalau ada tamu yang mau beli”,  pungkas Ama Tobi.

Kendati memiliki keahlian menenun yang cukup mumpuni, penghasilan Ama Tobi belum seindah karyanya.

Dia berharap pemerintah bisa memberikan bantuan modal usaha untuk mengembangkan usaha tenun ikat yang digelutinya. (Nyongky)

Bahan – bahan pewarna alam