oleh

Rumah Belum Diperbaiki, Pengungsi di SD Oesapa Malah Dipulangkan

Kupang, NTT

Korban bencana Seroja di Kota Kupang pada (5/4) yang mengungsi di SDN Oesapa lantaran tempat tinggal mereka hancur disapu badai, dipulangkan dengan alasan menghindari penyebaran COVID-19.

Ironisnya, rumah para korban bencana ini belum disentuh bantuan apapun dari badan penanggulangan bencana daerah maupun pemerintah kota Kupang. Bahkan ada yang masih berupa puing – puing.

Salah satu pengungsi, Maria, kepada wartawan di Kamp Pengungsian, Sabtu (10/4/2021) mengaku kecewa dengan sikap pemerintah yang terkesan mengabaikan kondisi warga yang terdampak bencana.

“Pak Lurah suru kembali perbaiki rumah masing – masing. Kami heran saja, kondisi rumah kan tidak layak (hancur) dan belum diperbaiki,” ungkap Maria.

Dia mengatakan, untuk makan sehari – hari saja tidak bisa, apalagi untuk membangun kembali rumah yang hancur.

“Kondisi rumah tidak layak makanya kami mengungsi. Kami msih menunggu keputusan dari pemerintah untuk membantu perbaikan rumah kami, tapi kami malah disuruh pulang,” katanya.

“Kami mau “nebeng” di tetangga tapi tetangga juga terdampak, kami mending di lokasi pengungsian dari pada membebani tetangga yang juga susah karena bencana,” imbuhnya.

Menurut Maria, pihaknya telah meminta bantuan tenda namun tidak diberi dengan alasan tidak ada.

Terkait pelayanan di kamp pengungsian di SD Oesapa, Maria mengatakan pelayanan yang diterima sangat baik.

“Makan minum baik, pelayanan kesehatan juga baik,” ungkap Maria.

Senada, Galadis, seorang ibu muda bersama delapan (8) anggota keluarganya mengatakan, pelayanan makan minum di kamp pengungsian cukup baik.

“Makan kami terjamin, kami dapat makan tiga (3) kali. Hanya kami butuh selimut,” pungkas Gladis.

Gladis berharap, pemerintah dapat memperhatikan para pengungsi (korban bencana) dengan peralatan tidur yang baik mengingat banyak anak – anak dan balita di kamp pengungsian tersebut.

Lurah Kelapa Lima, Yustinus Kahan, ketika dikonfirmasi awak media, Sabtu (10/4/2021) mengatakan, pengungsi dikembalikan untuk menghindari terjadinya klaster baru COVID-19.

“Tadi sesuai arahan dari pak Wagub (Wakil Gubernur) kalau bisa mereka (pengungsi) dikembalikan ke rumah mereka masing – masing karena ini situasi pandemi COVID-19,” kata Yustinus.

Menurutnya, rumah yang sudah tidak layak dihuni akan dicarikan solusi alternatif.

“Rumah warga yang masih baik kami akan minta untuk dititipkan sementara sambil mereka memperbaiki rumah mereka,” jelasnya.

Apabila tidak ada rumah warga yang bisa menampung para pengungsi, Lurah Yustinus, mengatakan, pihaknya akan membagikan terpal untuk membuat tenda sambil memperbaiki rumah mereka.

“Kendati mereka sudah dikembalikan ke rumah masing – masing tetapi mereka akan terus dilayani makan dan minum,” tandas Lurah.

Menurutnya, pelayanan makanan minum bagi korban terdampak tidak akan mengalami kesulitan. Pasalnya, data terkait para korban bencana sudah ada.

“Sekali lagi, pemulangan pengungsi bukan pernyataan saya tapi saya meneruskan informasi dari pak Wagub yang meminta kami dari kelurahan agar warga ini dikembalikan ke rumah mereka masing – masing,” tutup Lurah.

Untuk diketahui, korban bencana yang mengungsi di SD Oesapa sebanyak 30 KK dengan jumlah jiwa sebanyak 134 orang, yakni laki – laki 27 orang, perempuan 30, anak – anak 53 orang, sedangkan Lansia 16 orang. (MBN01).

Komentar