oleh

Tenda Pengungsian Saksi Derita Warga Ile Ape

Lembata, NTT

Suasana rumah yang asri dan nyaman berubah mencekam. Hujan debu dan kerikil memporakporanda penghuni lereng Lewotolok.

Dari 21 ribu penduduk di dua (2) kecamatan, yakni kecamatan Ile Ape dan Ile Ape Timur, sudah sekitar 5000 penduduk yang dievakuasi ke tenda pengungsian yang tersebar di kecamatan Nubatukan dan Lebatukan

Pemerintah masih terus berupaya mengevakuasi warga yang terdampak erupsi gunung Ile Lewotolok ke Lewoleba, ibukota kabupaten Lembata.

Anak – anak yang seharusnya bermain dan belajar dengan gembira, harus terkungkung di bawah tenda prngungsian.

Demikian pula, para lansia yang seharusnya menikmati hari tua, harus berbaring berdesak – desakan di tenda pengunsian.

Tak ada kasur busa dan bantal empuk, hanya lembaran terpal untuk melabuhkan tubuh yang letih.

Entah bagaimana mereka makan dan minum, hingga mandi, cuci dan kakus (MCK)?

Sementara gunung Lewotolok masih terus menyemburkan debu panas dan lava.

Informasi yang berhasil dihimpun dari Pos Pemantau Gunung Api (PPGA) Lewotolok menyebutkan, hingga saat ini aktivitas gunung Ile Lewotolok masih masih cukup tinggi. Hal ini ditandai dengan terekamnya gempa – gempa vulkanik dalam dan hybrid.

Kepala BPBD kabupaten Lembata, Petrus Kanisius Payong, kepada wartawan, Senin (30/11/2020) menjelaskan, pihaknya terus melakukan evakuasi terhadap warga di dua kecamatan.

Terkait makanan dan minuman bagi korban erupsi gunung Ile Lewotolok, Kanis, mengatakan, pihaknya masih berharap uluran tangan para dermawan.

“Untuk saat ini persediaan makanan masih cukup, namun belum tahu kapan bencana ini berakhir, karena itu kita berharap para donatur bisa membantu meringankan derita saudara – saudara kita di sini (Lembata)”, ujar Kanis. (MBN01)

kondisi warga Ile Ape di pengunsian

Baca Juga:  BREAKING NEWS : Gunung Ile Lewotolok di Lembata Meletus

Komentar

Berita Terkait