oleh

Kisah Polisi Penolong di Batas Terselatan NKRI

Kupang, NTT

Tidak mudah untuk menjadi seorang bhayangkara pembina keamanan dan ketertiban masyarakat (Bhabinkamtibmas), apalagi di daerah terpencil. Namun, sebagai seorang polisi harus patuh dan siap ditempatkan di pelosok manapun wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia ( NKRI).

Brigadir Polisi, Sinto Simson Malelak, demikian nama lengkap seorang Bhabinkamtibmas yang bertugas di batas terselatan NKRI, tepatnya di Desa Nusakdale dan Desa Batulilok, Kecamatan Pantai Baru, Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Brigpol Sinto mengisahkan, sejak awal ditempatkan sebagai Bhabinkamtibmas di dua desa tersebut, Dia merasa tertantang. Pasalnya, akses jalan ke daerah tersebut sangat buruk sehingga harus ditempuh dalam waktu 2 jam, padahal jaraknya tidak lebih dari 15 kilometer.

“Awal – awal memang berat, saya kadang tidur di rumah warga karena sudah kecapean,” kata Sinto.

Namun seiring waktu berjalan, Sinto menganggap bahwa semua warga binaaanya adalah keluarganya.

“Mereka (masyarakat) anggap saya sebagai saudara, saya juga sebaliknya,” ungkap Sinto.

Polisi yang ramah dan murah senyum itu, menganggap desa binaannya adalah rumah keduanya. Dia tidak memperhitungkan jarak dan akses jalan yang sulit. Setiap hari Brigpol Sinto menyapa warga binaannya, sambil berbagi cerita.

Tak hanya itu, melihat potensi seorang anak di salah satu desa binaannya, sangat baik  namun orangtuanya tidak mampu, sehingga Dia meminta izin untuk menyekolahkan anak itu.

Bagi Sinto, membuka tangan untuk menolong orang, sama halnya dengan membuka tangan untuk menerima berkat.

“Kalau kita genggam tangan kita erat – erat, bagaiman bisa rezeki itu bisa masuk,” unkap Polisi penolong itu.

Bocah yang disekolahkan sejak SD, kini sudah berganti seragam menjadi putih abu.

Tak heran jika Brigpol Sinto begitu dicintai dan dihormati warga binaanya.

Bantu Pasutri Lansia Sakit

Di tengah gonjang – ganjing kasus pembunuhan Ibu dan Anak di Kota Kupang, dan Kasus Sambo, yang menggerus kepercayaan publik terhadap aparat kepolisian di seluruh Indonesia khusnya Nusa Tenggara Timur (NTT), Brigpol Sinto melakukan aksi humanis yakni membantu pasangan suami isteri (Pasutri) lanjut usia (Lansia) yang sedang sakit.

Samuel Adu (80) dan Regina Ndun (79), merupakan Pasutri Lansia yang tinggal berdua dalam sebuah gubuk reot berukuran 3 x 4, di Desa Nusakdale, Kecamatan Pantai Baru, Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Pasutri ini bernar – benar hidup sebatang kara. Mereka tidak memiliki anak maupun kerabat yang mengurus mereka.

Ironisnya, pasutri lansia ini tidak mendapat bantuan apapun dari pemerintah. Tahun 2020, mereka masih mendapat bantuan PKH Lansia, namun sekitar 8 bulan terakhir, nama mereka hilang dari daftar penerima bantuan.

Dalam seminggu terakhir, pasutri lansia ini dikabarkan sakit. Mereka hanya pasrah.

Di tengah penderitaan mereka, Brigpol Sinto Simson Malelak, Anggota Polsek Pantai Baru, Polres Rote Ndao, yang bertugas sebagai Bhabinkamtibmas di wilayah itu, tidak sengaja mampir di gubug pasutri tersebut.

Ketika kembali, Sang Polisi Humanis ini mengajak tenaga kesehatan di Puskesmas Sonimanu untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi Pasutri Lansia ini.

“Waktu itu, Pak Sinto sampaikan kalau ada warga yang sakit dan tidak bisa datang ke Puskesmas karena itu kami berinisiatif untuk datang ke rumah opa Samue dan isterinya,” kenang Kepala Puskesmas Sonimanu, Sarlota Buknoni A.Md.Keb, saat menapat informasi dari Brigpol Sinto.

Tak menunggu waktu lama, lanjut Sarlota, Ia ditemani beberapa tenaga kesehatan dari Puskesmas Sonimanu dan Brigpol Sinto, menuju kediaman Opa Samuel.

Mereka menyusuri jalan yang rusak, berlubang dan terdapat banyak batu lepas yang cukup memacu adrenalin.

Namun demikian, demi kemanusiaan, para tenaga kesehatan ini bersama Bhabinkamtibmas, tiba di gubuk derita Opa Samuel dan Isterinya.

“Opa (Samuel Adu) sakit gatal- gatal, napas sesak dan demam, sedangkan Oma (Regina Ndun) tudak bisa melihat, pendengaran terganggu, dan tidak kuat jalan/lemah fisik,” terang Kapus.

“Suasana mengharu biru saat kami melihat kondisi oma dan opa. Keadaan mereka benar – benar sangat memperihatinkan. Kami berikan pelayanan kesehatan dengan harapan dan doa, mereka cepat sembuh,” imbuh Sarlota.

Selain pelayanan kesehatan, Brigpol Sinto juga membawa sembako, berupa beras, mie instan, dan lainnya untuk Pasutri Lansia itu.

“Saya hanya mengembalikan hak mereka yang Tuhan titipkan lewat saya, semoga menjadi berkat,” ujar Sinto.

Pelayanan Brigpol Sinto tidak berhenti sampai di situ. Setiap bulan, Dia menyisihkan penghasilannya untuk membeli sembako dan dibagikan kepada warga binaan yang tidak mampu.

Menurut Brigpol Sinto, apa yang dilakukan adalah wjud dari cinta. Yakni mencintai sesama dan mencintai tugas dan tanggungjawab sebagai anggota Polri yang memiliki kewajiban mengayomi dan melayani masyarakat. (Nyongky)

Komentar

Berita Terkait