oleh

Polemik Tanah Konay, Sisco Bessi : Jangan Curhat di Media, Silahkan Gugat

Kupang, NTT

Pernyataan Kuasa Hukum Yuliana Konay CS, Alfons Loemau, bahwa putusan Pengadilan Negeri Kupang No. 20/PDT. G/2015/PN Kupang jo Putusan Pengadilan Tinggi 160/PDT/2015/PT tidak menyatakan siapa yang menang atau kalah, disikapi Kuasa Hukum Mathen Konay Fransisco Bernando Bessi, S.H., M.H., CLA., dengan santai.

Sisco menegaskan, perkara tanah Pagar Panjang dan Danau Ina sudah Inkrah baik secara ekternal maupun internal. Oleh karena itu, Sisco menegaskan, agar para pihak yang merasa belum puas dengan putusan pengadilan menempuh upaya hukum. Pasalnya, persoalan hukum hanya bisa dilawan dengan hukum, bukan dengan curahan hati (Curhat) di media.

Pengacara muda berbakat ini merincikan, terkait gugatan No. 20, para penggugat yang mangajukan gugatan yakni, Yuliana Konay, Markus Konay yang mewakili ahli waris Sakarias Bertolomeus Konay, Salim Masnyur Sitta dan Ibrahim Masnyur Sitta mewakili ahli waris pengganti dari agustina konay, Gerson Konay dan Henny Konay mewakili ahli waris dari Sanci konay.

“Apa yang mereka minta dalam perkara no.20? Petitumnya seperti ini, Sesuai berita acara eksekusi nomor 8, 15 Maret 1996, dan nomot nomor 8 tanggal 8 September 1997, dibagi kepada ahli waris dan ahli waris pengganti dengan proporsi 1 : 6 dari seluruh harta warisan Yohanes Konay dan Elisabet Tomodok,” tandas Sisco.

“Berdasarkan bukti yang telah diajukan dan keterangan saksi, diperoleh fakta bahwa sebagian besar tanah sengketa telah dijual oleh Yuliana Konai dan Markus Konay, oleh karena itu para penggufat tidak patut lagi menuntut objek sengketa yang masih dikuasai oleh tergugat,” tambah Sisco.

Dijelaskan Sisco, setelah gugatan ditolak para pemggugat mengajukan upaya hukum banding ke Pengadilan Tinggi Kupang. Di dalam memori banding dan tambahan memori banding, masih diuraikan susunan ahli waris seperti gugatan di Pengadilan Negeri Kupang.

Lebih lanjut disampaikan, menurut Majelis Hakim tingkat banding bahwa tidak urgen lagi untuk dikabulkan karena yang menjadi sengketa dalam pokok perkara sudah ditolak.

“Saya lebih menekankan kepada aturan dan penerapan hukum berdasarkan putusan pengadilan. Jika tidak puas, bicara di media 1000 kali pun tidak akan menghilangkan putusan pengadilan,” ungkap Fransisco.

“Mau putusan ini jelek dan buruk sekalipun, putusan ini tetap ada dan mengingkat. Jadi, jika tidak puas, lakukan upaya hukum. Namun hanya diberikan Peninjauan Kembali (PK). Karena putusan ini di Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi telah selesai dan tidak mengajukan kasasi ke Mahkama Agung,” imbuhnya.

Selaku Kuasa Hukum Konay, Fransisko mejelaskan, pihaknya tetap mengakui mereka (Yuliana Konai CS)  sebagai keluarga. Namun demikian, untuk kepemilikan lahan, sudah ada putusan pengadilan bahwa sengketa tanah Pagar Panjang dan Danau Ina telah selesai, dan sah milik ahli waris Esau Konay.

“Tidak Puas, bantah putusan pengadilan, tidak puas lagi lanjut, ke mana pun kami siap. Lapor di Polisi. Gugat perdata silahkan, nanti nebis in idem. Pasti beliau (Alfons Loemau) di Jakarta lebih jago dari kami yang di Kupang,” ujar Sisco.

Sementara itu, Marthen Konay, menegaskan, secara de facto Yulian Konay CS adalah keturunan Konay, tetapi secara De Jure, sudah dijelaskan dalam putusan 20, gugatan Yuliana Konay CS ditolak seluruhnya. “Lalu apa lagi yang mereka minta,” tanya Marthen.

Dikatakan Marthen, perkara dengan pihak eksternal dalam hal ini Pit Konay dalam perkara 78, tidak satu pun dari Yuliana CS digugat tetapi pengadilan tidak menyatakan perkara tersebut NO karena ada pihak lain belum digugat.

“Lalu, punya kepentingan sebagai ahli waris kenapa tidak intervensi. Harus intervensi, itu baru namanya ahli waris,” katanya.

“Jangan kita perkara setengah mati, berdarah – darah, habis – habisan, kau duduk – duduk saja tiba – tiba datang mau duduki, mau klaim, mau jual? Hadapi saya dulu,” tegas Marthen Konay.

Marthen menegaskan, siapa pun yang hendak ke lokasi Pagar Panjang dan Danau Ina dengan tujuan menguasai lokasi tersebut harus terlebih dahulu berhadapan dengan dirinya.

“Sejak tahun 2016, saya sudah usir begitu banyak orang yang membuat basecamp di lokasi sampai kosong. Jadi saya tunggu siapa lagi yang mau datang. Karena siapa saja yang ingin turun ke lokasi, akan berhadapan dengan saya,” tegas Marthen.

Bagi Marthen, ruang mediasi sudah tertutup. Jika pihak Yuliana Konai CS merasa tidak puas, dipersilahkan untuk menempuh jalur hukum. (MBN01)

Komentar

Berita Terkait