oleh

Ketua Sinode GMIT Desak Polisi Tindak Tegas Pengancam Pendeta

Kupang, NTT

Ketua Majelis Sinode GMIT, Pendeta Dr. Mery I.Y. Kolimon, mendesak polisi untuk segera menindak tegas para pelaku yang mengancam ketua majelis jemaat GMIT Gibeon Bone, Pdt. Erna Ratu Eda Fanggidae, S.Th., pada Minggu (28/3/2021).

“Kami mengecam tindakan main hakim sendiri dengan cara membakar rumah warga dan mengintimidasi ibu pendeta dan majelis disana. Negara ini negara hukum,” ujar Pendeta Dr. Mery I.Y. Kolimon kepada wartawan, Sabtu (3/4/2021).

Ia mengatakan, Sinode GMIT sudah berkomunikasi dengan korban pengancaman pembunuhan Pendeta gereja GMIT Gibeon Bone, Pdt. Erna Ratu Eda Fanggidae, S.Th.

“Kemarin KMK Kupang Barat dan sejumlah pendeta sudah berkunjung ke sana,” katanya.

Ia meminta Polda NTT menjamin keamanan beribadah jemaat di desa Taloeletan khususnya dalam masa raya Paskah.

Ia juga mendesak polisi segera menangkap dan menindak tegas para pelaku kejahatan untuk memberi efek jera.

“Masalah hukum harus diproses melalui jalur hukum, bukan dengan premanisme dan intimidasi kepada warga. Kami mendesak Polda NTT mengusut tuntas pelaku dan motif kejahatan ini,” tegasnya.

Sementara itu, Kapolda NTT, Irjen Pol. Lotharia Latif meminta korban pengancaman maupun pembakaran segera membuat laporan polisi agar ditindaklanjuti.

“Saya sudah perintahkan Kapolres Kupang untuk tangani secara profesional dan proporsional. Segera nanti saya akan cek kembali. Bila benar ada ancaman pembunuhan, segera buat laporan polisinya dan pasti akan saya tindak tegas,” ujarnya.

Ia mengimbau semua pihak menahan diri, karena proses penyelidikan kasus ini sedang dilakukan Polres Kupang.

“Proses riksa sudah dilakukan oleh Polres Kupang. Teman-temn media juga bisa bantu dengan info yang seimbang agar menjaga sikon kamtibmas kondusif,” katanya.

Sebelumnya, Pendeta gereja GMIT Gibeon Bone, Pdt. Erna Ratu Eda Fanggidae, S.Th. mengaku diancam dan dibunuh sekelompok massa perusuh, Minggu (28/3/2021) lalu.

Kelompok perusuh itu membakar 21 rumah warga dan sejumlah ternak piaraan warga pun dibunuh.

Aksi premanisme itu merupakan buntut dari ekseskusi lahan di wilayah itu. (MBN01)

Komentar