oleh

Akhir Kisah Kapten Kismen di Antara 2 Cinta

Kupang, NTT

Tak ada yang menyangka jika semburat cahaya terang di ufuk timur kota Kupang pada Minggu (21/3/2021) pagi adalah saksi bisu akhir kisah Kapten Kismen Kasehung di antara dua (2) Cinta.

Pagi itu, ‘sang penakluk samudera’ mengajak kekasihnya (02) Meike Taghulihi jalan – jalan di seputaran komplek tempat tinggal mereka, di RT 14/RW 05, Kelurahan Alak, Kecamatan Alak, Kota Kupang, sekadar menikmati udara pagi.

Meike sempat menolak, namun Bapak demikian sebutan manja Meike kepada Sang Kapten, terus memaksa.

“Bapak bilang lebih semangat kalau jalan-jalan keliling dan kami pun berjalan keliling di sekitar kompleks,” ungkap Meike mengenang hari terakhir kebersamaan mereka.

Mereka sempat menyusuri jalan setapak berbatu tak jauh dari kontrakan.

Setiba di kontrakan, kapten Kisman bertingkah aneh, tidak seperti biasanya. Usai mandi, Kapten meminta Meike untuk memakaikan pakaian hingga menyisir rambutnya.

“Setelah saya turuti kemauannya, Bapak langsung memeluk dan mengelus – elus kepala saya dengan tangannya,” jelas Meikei.

Mieke makin bingung melihat tingkah Kapten yang aneh. Bahkan Kisman meminta Meike untuk membelikan ikan bakar, karena menurutnya Ia sudah bosan mengkonsumsi daging.

“Saya langsung ke pasar untuk beli ikan, saat saya pulang saya kaget lihat bapak sudah tidak ada. Saya buang ikan di lantai dan saya lansung cari bapak,” katanya.

“Saya mencari lewat jalan yang kami lewat tadi. Cuma mau masuk ke dalam hutan itu, saya takut karena sendiri. Jadi saya panggil 3 anak kecil untuk bantu saya cari dia,” sambung Meike.

Tak hanya di tempat itu, Meike berkeliling hingga ke pelabuhan. Namun usahanya bersama tiga anak tadi tidak membuahkan hasil.

Mentari pun perlahan kembali ke peraduan di jemput malam. Namun, sang Kapten tak kunjung kembali. Bahkan semua kerabatnya pun tidak tahu di mana rimbanya.

“Hpnya juga tidak aktif. Saya sempat kontak beberapa kawannya dan awak kapal, namun mereka bilang tidak mengetahui keberadaan Bapak,” kata Meike berurai air mata.

Selain panik dan sedih lantaran orang tercinta hilang baq ditelan bumi, malam itu Meike (Cinta 02), dilabrak Stefi Baliude (Cinta 01) di antar oleh ketua RT. 14.

“Kamu sembunyi di mana suami saya,” kata Meike menirukan ucapan Stefi.

“Dia (Stefi) ngamuk – ngamuk tapi saya diam saja. Sesekali saya jawab kalau Dia terlalu kasar,” imbuhnya.

Meike menjelaskan bahwa Dia sendiri sedang bingung dan stres karena Kapten Kismen pergi dari kontrakan sejak pagi dan belum kembali. Namun Stefi tetap marah dan menuding Meike menyembunyikan suaminya.

Pertengkaran mereka akhirnya dilerai oleh ketua RT 14, Selfina Latumeten, yang saat itu mendampingi Stefi.

“Waktu itu saya ada, istri pertamanya tanya “suami saya ke mana, istri kedua mengatakan dia juga tidak tahu, saat dia pulang suaminya sudah tidak ada di rumah,” kata ketua RT menirukan percakapan kedua istri Kismen saat bertengkar.

Stefi kemudian dibawa pergi oleh Selfina sehingga pertengkaran pun dapat dielakan.

Kapten Ditemukan Tak Bernyawa

Dua hari sejak Kapten menghilang, tiba – tiba warga di sekitar Kelurahan Alak, Kecamatan Alak, Kota Kupang, NTT, dihebohkan dengan penemuan jasad seorang pria yang sudah membusuk, Selasa (23/3/2021) petang.

Ketika itu, seorang pelajar, Safa Gisela (12), dan beberapa temannya hendak mencari belalang di lahan kosong milik PT Pelindo III.

Namun saat tiba di tanah kosong dekat pemancar, Safa dan temannya mencium aroma tidak sedap.

Mereka mencari sumber bau tersebut dan ternyata sesosok mayat yang sudah membusuk.

Safa dan teman-temannya langsung meninggalkan lokasi kejadian dan menyampaikan kejadian tersebut kepada seorang nelayan bernama, Arjun. Arjun kemudian melaporkan kejadian itu ke Polsek Alak.

Mendengar kabar tersebut, Ketua RT 16, RW 5, kelurahan Alak, Djulince Anin, lansung menuju TKP.

“Saya dengar kabar lansung saya lari saja ke sana (TKP), karena tempat itu masih wilayah saya. Sampai di sana ternyata sudah ada polisi dan ternyata jenazah tersebut adalah Kapten Kismen” ungkap Djulince.

Usai melakukan identigikasi dan olah tempat kejadian perkara, anggota polisi yang dipimpin Kapolsek Alak, Kompol Tatang P. Panjaitan serta tim identifikasi Satuan Reskrim Polres Kupang Kota langsung mengevakuasi jasad korban ke RSB Titus Uly Kupang.

“Berdasarkan hasil visum et repertum, di tubuh korban terdapat 17 bekas luka tusukan di bagian perut dan dada korban. Ada juga luka sayatan pada tangan kanan dan luka robek pada bagian leher serta pendarahan pada bagian kepala,” ujar Kapolsek Alak, Kompol Tatang P Panjaitan saat dikonfirmasi, Rabu (24/3/2021)

Jenazah korban sempat disemayamkan di RSB Titus Ully. Awalnya Istri Korban, Stefi Baliude, bersedia untuk dilakukan autopsi, namun kemudian Dia tidak setuju dilakukan autopsi dengan alasan keluarga menerima kejadian tersebut sebagai takdir.

Jenazah Kapten Kismen Kasehung akhirnya diterbangkan ke kampung halamannya di Manado.

Kepergian Sang Kapten meninggalkan dua cintanya, masih misteri. Dua bilah pisau yang merenggut nyawa sang Kapten juga tak bertuan.

Jika dikatakan bunuh diri, wajarkah 17 luka tusukan dan beberapa sayatan di tangan kanan dilakukan sendiri?

Sebelum istri pertama korban tiba di kupang, korban sempat berkomunikasi lewat telepon, dan perbincangan mereka sempat didengar istri keduanya, Meike.

“Saya dengar sedikit perbincangan mereka, Bapak (Kismen) mengatakan, kalau dia mau datang ke Kupang, nanti ngana lihat. Ada sesuatu yang terjadi pa kita. Itu saja yang saya dengar,” ujar Meike kepada wartawan, pada Kamis 25 Maret 2021.

Dan akhirnya pernyataan tersebut terbukti. Lalu siapa sebenarnya yang merenggut nyawa sang Kapten? (MBN01)

Komentar