by

Diduga Ada ‘Mafia Bola’ Dibalik Sanksi PSN Ngada

Kupang, NTT

Pasca dikeluarkannya sanksi bagi Persatuan Sepak Bola Ngada (PSN), oleh panitia disipin Persatuan Sepak Bola Indonesia (PSSI) dalam kompetisi Liga III PSSI, sejumlah pihak menduga terdapat mafia bola dalam pemberian sanksi tersebut sebagai upaya menjegal PSN Ngada. Hal ini memantik reaksi dari berbagai pihak.

Manajer Persatuan Sepak Bola Ngada (PSN Ngada) Ferdy Burah mengaku keberatan dengan sanksi yang diberikan oleh panitia disipin Persatuan Sepak Bola Indonesia (PSSI) dalam kompetisi Liga III PSSI.

“Coba lihat dengan teliti kronologi pertandingan tersebut. Coba jangan bikin sanksi sembarangan,” ujar Manajer PSN Ngasa Ferdy Burah, seperti dilansir Antara, Selasa (17/12).

Ferdy merasa heran dan menduga ada “permainan kotor” untuk menjegal tim kesayangan masyarakat Nusa Tenggara Timur ini.

“Coba salahnya kami dimana? Padahal seharunya PSN Ngada sudah dinyatakan lolos ke putaran berikutnya babak 16 besar,” ungkapnya.

Dia menegaskan, PSN Ngada tidak pernah menggunakan pemain ilegal. Hal ini telah terkonfirmasi sebelum dimulainya pertandingan. Saat itu panitia menyatakan pemain bersangkutan (Kiken Wea) dinyatakan layak untuk dimainkan dalam pertandingan tersebut.

Menurut Ferdy, pada Sabtu (14/12) pekan lalu Match.Com menerbitkan catatan hasil pertandingan yang menyatakan Kiken Mentinus Wea salah satu pemain PSN Ngada mendapat kartu kuning.

“Kenyataannya pemain kami sama sekali tidak mendapatkan kartu kuning”, tegasnya.

Menurutnya, hal tersebut bisa dibuktikan dengan rekaman video melalui tiga sumber yang ditayangkan melalui youtube channel, atas kekeliruan catatan hasil pertandingan, pada Minggu (15/12) PSN Ngada membuat surat protes.

“Kami sudah ajukan protes untuk masalah ini, tetapi yang kami heran protes kami tidak direspon baik oleh PSSI maupun panitia lokal,” ujar dia.

Sementara itu, Exco Asprov PSSI Nusa Tenggara Timur Jimmy Sianto, kepada media mengatakan, penggunaan kata ilegal terhadap pemain PSN Ngada itu tidak benar. Pemain Kiken Wea terdaftar resmi, hanya karena dirinya dicatat mendapat kartu kuning sehingga tidak bisa dimainkan oleh wasit, walaupun kenyataannya video yang ada tidak terbukti ada kartu kuning yang dikeluarkan oleh wasit selama pertandingan.

“Ini hanya karena dia tercatat mendapatkan kartu kuning sehingga tidak dimainkan, harusnya tidak boleh memakai kata ilegal karena kategori ilegal itu seperti apa? Ilegal itu kecuali dia sebelumnya tidak terdaftar sebagai pemain, kemudian dia dimainkan ya boleh dibilang ilegal, tapi sebelumnya dia pernah dimainkan masa dibilang ilegal,” ujarnya.

Jimmy mengatakan, pihaknya sementara berkoordinasi dengan pengurus dan sekretaris umum Asprov PSSI Nusa Tenggara Timur, untuk mencari informasi sehingga PSN Ngada yang mewakili Nusa Tenggara Timur dalam liga 3 nasional tidak dirugikan, oleh bandit mafia bola.

“Jangan kita dirugikan dengan kesalahan yang mungkin disengajakan. Ini yang akan kita telusuri karena kebenaran itu harus dijunjung tinggi. Bukan benar jadi salah terus salah jadi benar, saya sudah komunikasikan dengan sekretaris umum Asprov, jika benar yang disampaikan oleh PSN Ngada bahwa mereka bisa membuktikan dengan rekaman, mereka punya bukti tiga video berbeda, dan pemain ini sendiri tidak merasa mendapat kartu kuning dalam pertandingan itu,” tambahnya.

Asprov PSSI Nusa Tenggara Timur dengan tegas meminta panitia disiplin liga 3, untuk membuktikan pelanggaran yang dilakukan oleh PSN Ngada, sehingga tidak dinilai ada mafia bola yang bermain dalam pertandingan ini. Dengan sanksi ini, maka PSN Ngada terancam didiskualifikasi dari Liga 3. (Tim)

Comment

Berita Terkait