Surat “Sampah” untuk Sahabat

0
224
Bagikan :

Oleh : Ola Keda Kabelen

(Wartawan Liputan6)

Sengaja aku menulis surat ini untukmu sobat, karena kemarin aku sempat membaca surat dari mereka yang peduli akan keberadaan kita di dinding maya.

Jujur, surat itu telah kubaca. Isinya membuat hatiku tersayat bagai teriris sembilu. Surat duka atas matinya integritas dunia kita. Surat itu sungguh menjadi tamparan keras buat aku, kamu, dia dan kita.

Sobat, aku terpaksa menulis surat ini, karena tamparan itu sudah berulang-ulang hingga telingaku terasa sakit. Namun, harus diterima. Mungkin mereka muak bahkan muntah dengan sikap kita. Aku takut, mereka sampai pada titik ragu bahkan tidak percaya lagi akan kehadiran kita. Kita bisa dianggap penghancur NKRI, seperti kata Pak Prabowo kala itu. Aku takut kita diberi label jadi-jadian alias bodrex. Jangan sobat. Aku takut membayangkan itu.

Surat ini aku tulis persis di jam 00.00 wita. Jam dimana kalian semua tertidur lelap. Tetapi bagi ku, itu jam tidur bocah ingusan yang baru belajar isap dot. Itulah jam kerjaku. Disaat anda bermimpi indah, aku berpikir keras merangkai kata. Hingga mimpimu itu aku ceritakan.

Sobat, silahkan saja kalau anda mau bersekutu dengan Si Gagak Merah. Itu hak anda. Tetapi tidak perlu ajak-ajak kami untuk mewartakan kebohongan. Apalagi jadi pewarta “murahan”. Kami harus mengabarkan fakta sesuai aturan main kita sewaktu kecil.

Anda mau aku berbohong demi menyenangkan pemimpi di siang bolong? Anda mau aku mengisi headline dengan kabar penggiringan opini sesat? ah, jangan itu kita terlalu jahat sobat. Nasib tanah kita ada di tangan kita juga.

Menjadi wartawan itu tidak mudah sobat, semudah anda menyebut kami beropini bahkan berita itu hanya modus sesat.

Baca Juga:  Benarkah Pemuda Independen Menulis Opini ?

Sobat, kami bisa sampai ke titik ini lewat proses yang berliku. Kemampuan kami diuji (mungkin tidak pada anda). Ditempa dengan garangnya editor, dikejar deadline belum lagi narasumber yang bersikap preman bak pendekar kampung. Semua kita lalui.

Di lapangan kami bermandi peluh dan banyak waktu terbuang karena harus mengejar sumber dari segala bidang. Kami tak punya waktu lagi untuk kejar-kejaran uang. Bagi kami, upah sekecil apapun, itu adalah berkah yang disyukuri. Dari pada kami harus menerima uang haram, beli makanan enak dan besok mati membawa dosa.

Dan karena proses panjang itu, kami sedikit menjadi tau. Tau bukan karena dicekoki propaganda hasil retorika dari mulut yang berbusa-busa si Tuan Gagak Merah, tetapi tau karena kami punya tanggungjawab besar.

Sobat, Kami harus menyajikan fakta. Sekali lagi FAKTA. Kalau soal salahkan orang, itu bukan tugas kami. Itu tugas yang berwajib. Kami hanya mampu mencoret kata dari hasil penelusuran sendiri. Masa anda memaksa aku menulis “Rumah Warga Ludes Terbakar” padahal itu hanya asap dari sisa pembakaran sampah?. Ah, sobat, tanggungjawab kami berat, seberat kita berumahtangga. Harus membeli sembako setiap hari agar orang-orang yang kita sayangi jangan kelaparan. Bukankah begitu sobat?

Tidak usah mengurusi apa yang kami wartakan. Apalagi membunuh tulisan itu dengan dongeng pembodohan. Kami tidak akan ikuti supaya memberitakan sesuai apa yang sobat dan komplotan anda inginkan. Tongkrongan kita beda sobat.

Aku harap surat ini bisa kamu baca agar bisa memberi aku masukan. Biar kita bisa saling mengingatkan. Masih ada waktu untuk memperbaiki salah. Masa lalu biarlah berlalu, masa depan adalah tanggungjawab.

Maaf sobat, jam sudah hampir pagi, aku harus menutup mata sekejap biar esok aku bisa melangkah tegak di jalanan. Tak lupa aku mendoakanmu, juga orang yang mempedulikan kita. Semoga kita bisa kembali ke hakekat kita sesungguhnya.

Baca Juga:  Kartu Petani Sejahtera Bukan Sebuah Kejutan, tapi Mengapa Mengejutkan?

Jika esok ada pertanyaan dari mereka yang kemarin meragukan kehadiran kita, makhluk apakah wartawan itu? jawablah singkat, wartawan adalah orang-orang yang bertugas memantau jalannya kekuasaan dan sekaligus menjadi pusat kekuasaan. Tetapi tidak tenggelam dalam kekuasaan. Berilah ia pesan, jika kalian ingin menjadi pemimpin besar, menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator, seperti pesan Hadji Oemar Said Tjokroaminoto.

Menulislah dalam diam, menulislah sampai mati (***)

Bagikan :