Tragedi Jembatan Liliba dan Kisah Paman Korban

0
50
Bagikan :

Kupang, NTT

Jembatan Liliba nampak tenang dalam kebisuan namun ada sejuta tragedi dan derai air mata menyelimuti lantaran tak sedikit orang memilih untuk mengakhiri kisahnya di tempat ini.

Hari ini, Senin (13/1/2020), kisah pilu itu kembali terjadi. Entah karena angka 13 merupakan angka sial atau karena memang sudah suratan takdir, seorang Pria asal Adonara, Adolf Pradianto Kia Koli (24) ditemukan tewas di kolong Jembatan Liliba, Kelurahan Liliba, Kota Kupang, NTT, sekitar pukul 17.00 wita.

Adolf diduga depresi lantaran sakit yang dideritanya tak kunjung sembuh. Selama di Kupang, Adolf tinggal bersama tantenya di Perumahan Puri Rahayu Blok E2 Liliba.

Untuk bertahan dari sakit yang selama ini dideritanya, korban setiap hari mengkonsumsi obat yang disarankan dokter.

Paman korban, Donatus Nama Samon mengaku mendapat telepon dari ibu korban soal kepergian korban tanpa pamit dari rumah. Kepadanya, ibu korban melaporkan jika korban keluar dari rumah sejak Minggu 12 Januari sekitar pukul 18.00 wita.

Senin 13 Januari pagi, ia kembali dihubungi ayah korban dari Flores Timur. Ia dikabarkan jika sepeda motor korban ditemukan di ujung jembatan Liliba. Saat itu, keluarga mengira korban dibawa temannya. Tak ada sedikitpun firasat buruk tentang korban.

Keluarga pun bersepakat menunggu di lokasi sepeda motor korban yang terparkir. Mereka berharap, teman korban segera mengantarnya pulang.

Namun, karena korban tak kunjung datang, keluarga memutuskan untuk turun mengecek korban di bawah jembatan Liliba. Sekitar pukul 17.00 wita, korban akhirnya ditemukan tak bernyawa dengan kondisi mengenaskan.

“Dikira temannya jemput untuk jalan-jalan. Kami tidak ada firasat apa-apa sebelumnya. Tapi saat dilaporkan sepeda motor ditemukan di ujung jembatan, saya mulai gelisah dan berharap tidak ada kerumunan orang di jembatan. Ternyata korban kita temukan sudah meninggal,” tuturnya kepada wartawan, Senin (13/1/2019).

Baca Juga:  Akhir Pelarian Penyuplai Narkoba Artis JD

Ia mengaku, korban selama ini mengidap sakit yang tak kunjung sembuh. “Korban memang sudah lama sakit,” katanya.

Usai dievakuasi, jenazah korban dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Titus Ulli untuk divisum. Keluarga menolak jenazah diotopsi dan menerima kejadian itu sebagai musibah. (MBN01/ DT)

Bagikan :