Pemerintahan Polkam

Kepala BNN NTT : Narkoba adalah Transnational Crime, Penanganannya Butuh Kerjasama

Bagikan :

Kupang, NTT

Narkotika, Psikotropika dan Bahan Adiktif berbahaya lainnya atau yang lebih dikenal dengan Narkoba adalah bahan atau zat yang jika dimasukan ke dalam tubuh manusia, baik secara oral (diminum), dihirup, maupun disuntikan, dapat mengubah pikiran, suasana hati atau perasaan, dan perilaku seseorang. Narkoba dapat menimbulkan ketergantungan (adiksi) fisik dan psikologis sehingga sangat membahayakan jiwa manusia.

Kendati demikian, peredaran Narkoba sangat pesat. Bahkan penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang di kalangan generasi muda dewasa ini kian meningkat. Maraknya penyimpangan perilaku generasi muda tersebut, dapat membahayakan keberlangsungan hidup bangsa ini di kemudian hari. 

Peredaran Narkoba tidak hanya terjadi di dalam negeri (Indonesia) tetapi diperjualbelikan secara ilegal lintas negara.

Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi NTT, Brigjen. Pol. Teguh Iman Wahyudi, SH, MM, saat memaparkan materi dalam sebuah diskusi di Negara Republik Demokratic Timor Leste (RDTL) atas undang kepala BIN RDTL beberapa waktu lalu, mengatakan, kejahatan Narkoba sifatnya kejahatan lintas negara.

“Narkoba sifatnya Transnational Crime, Ekstraordinary Crime (Kejahatan Luar biasa), dan serius crime, dan Organized Crime. Penanganannya butuh kerja keras dan kerjasama antara para penegak hukum, baik dalam negeri maupun luar negeri”, jelasnya.

Untuk melakukan pengamanan wilayah perbatasan, Brigjen. Pol. Teguh mengatakan bahwasanya telah dibangun komitmen bersama untuk pengamanan wilayah perbatasan Indonesia dan Timor Leste dari peredaran gelap Narkoba.

“Kami sepakat untuk saling menginformasikan jaringan narkoba di Timor Leste dan Indonesia. Apabila jaringan tersebut beroperasi, maka kami komitmen untuk saling menginformasikan”, jelas Kepala BNNP NTT.

Dikatakan pula, bahwa dalam diskusi yang dihadiri oleh berbagai unsur penegak hukum pemberantasan Narkoba Timor Leste itu, Kepala BNNP NTT juga menyampaikan berbagai pengalaman pemberantasan narkoba oleh Badan Narkotika Nasional di Indonesia.

Baca Juga:  BNNP NTT Rutin Kampaye Anti Narkoba di Arena CFD

“Baru-baru di Timor Leste, ditangkap 126 ton itu divonis bebas. Mungkin di Timor Leste masih mengadopsi UU Indonesia yang lama tentang Narkotika dan psikotropika”, terangnya

Terkait strategi pemberantasan Narkoba, Kepala BNNP NTT mengatakan, harus seimbang antara demand reduction (pengurangan permintaan) dan suply reduction (pengurangan ketersediaan).

“Ada tiga poin penting didalam demand reduction. Yang pertama adalah penyebarluasan informasi ke seluruh elemen masyarakat agar masyarakat menjadi paham bahaya dan dampak penyalahgunaan narkoba. Diharapkan masyarakat menjadi imun terhadap pengaruh narkoba dan pada akhirnya mereka sendiri yang menolak narkoba. Yang kedua, menumbuhkembangkan kemandirian masyarakat dengan cara membentuk satgas atau relawan anti narkoba. Yang ketiga yaitu, dengan merehabilitasi para pengguna narkoba”, urai Brigjen. Pol. Teguh.

Sementara itu, menurutnya, langkah-langkah suply reduction yang dilakukan oleh BNN adalah yang pertama, penegakan  hukum yang keras dan tegas terhadap pengedar dan bandar narkoba. Yang kedua, melakukan kerjasama antar penegak hukum baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Yang ketiga melakukan pengawasan dan pencegatan khususnya di daerah perbatasan dan pintu masuk baik itu melalui jalur darat, laut dan udara secara ketat.

“Kita juga membahas persoalan narkoba jenis baru yang sudah masuk ke wilayah Indonesia. Saat ini, narkoba baru atau NPS (New Psychoactive Substain) berjumlah 803 jenis. Yang sudah masuk ke Indonesia berjumlah 74. Dari total 74 narkoba jenis baru ini, terdapat 68 jenis yang sudah diatur dalam peraturan menteri kesehatan,” jelasnya. (MBN01)

282 Views
Bagikan :