60 Rupiah Proteksi Keselamatan Penumpang Angkutan Umum

0
36

Kupang, NTT

Mungkin anda tidak percaya bahkan bingung jika 60 rupiah bisa memproteksi keselamatan anda saat bepergian atau beraktifitas menggunakan angkutan umum.

Ternyata pemerintah sebelum menetapkan tarif angkutan umum sudah memperhitungkan semua hal termasuk biaya proteksi keselamatan penumpang angkutan umum.

Kepala Jasa Raharja Cabang NTT, Prasetio Surahmanto, melalui Penanggung Jawab Pelayanan PT Jasa Raharja (Persero) Cabang NTT, Laurensius Ade Suyanto, SH, menjelaskan kebijakan tersebut tertuang di dalam Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia, Nomor 15/PMK.010/2017 tentang, besaran santunan dan iuran wajib dana pertanggungan wajib kecelakaan penumpang, alat angkutan umum di darat, sungai/danau, Feri/penyeberangan laut, dan udara.

“Pasal 5 ayat 2, tertulis besar iuaran wajib yang harus dibayar oleh setiap penumpang, kendaraan bermotor umum 60 rupiah. Jadi perlu saya garis bawahi bahwa ketika adik – adik turun dari Bemo (anggkutan umum) dan membayar Rp2000 maka didalamnya sudah ada iuran 60 Rupiah, dan itu yang akan disetor pemilik angkutan ke Jasa Raharja”, kata Laurensius saat sosialisasi peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 15 dan 16 tahun 2017 di Aula Fakultas Hukum Undana Kupang, Rabu (19/12/2018)

Kendati pemilik angkutan umum menunggak pembayaran Iuran wajib, menurutnya hak santunan masyarakat atau korban kecelakaan tetap diberikan oleh Jasa Raharja.

“Jadi ada tiga pihak di sini yakni, masyarakat sebagai penumpang angkutan umum, pemilik angkutan dan Jasa Raharja. Walaupun pihak pemilik angkutan tidak melunasi iuran, resiko itu tetap ditanggung oleh Jasa Raharja”, urai Laurensius.

Lebih lanjut Laurensius menjelaskan, dengan membayar biaya angkutan umum yang di dalamnya sudah tercover iuran wajib sebesar 60 rupiah bagi penumpang angkutan umum di darat maka sudah berhak mendapat santunan bila terjadi kecelakaan.

“Besar santunan bagi yang meninggal dunia sebesar Rp50 juta”, tandasnya.

Selain santunan bagi ahli waris korban meninggal dunia, bagi penumpang yang mengalami cacat tetap berhak atas Santunan yang dihitung berdasarkan angka persentase sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 10 ayat (3) Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1965 tentang Ketentuan-Ketentuan Pelaksanaan Dana Pertanggungan Wajib Kecelakaan Penumpang dari besar Santunan meninggal dunia.

Sedangkan penumpang yang memerlukan perawatan dan pengobatan berhak atas Santunan berupa : penggantian biaya perawatan dan pengobatan dokter paling banyak Rp25.000.000,00 (dua puluh lima juta rupiah); biaya ambulans atau kendaraan yang membawa penumpang ke fasilitas kesehatan paling banyak Rp500.000,00 (lima ratus ribu rupiah); dan/ atau biaya pertolongan pertama pada Kecelakaan paling banyak Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah).

Namun jika penumpang yang meninggal dunia akibat Kecelakaan selama berada di dalam alat Angkutan umum di darat, sungai/ danau, feri/penyeberangan, laut, dan udara yang tidak mempunyai ahli waris, kepada pihak yang menyelenggarakan penguburan diberikan penggantian biaya penguburan sebesar Rp4.000.000,00 (empat juta rupiah).

Sementara itu, Kasubdit Dikyasa Ditlantas Polda NTT, AKBP Matheus Mau, dalam pemaparannya mengatakan untuk menekan angka kecelakaan lalu lintas, Ditlantas Polda NTT akan membentuk komunitas mahasiswa sadar lalu lintas di seluruh kampus di NTT.

“Gol yang diharapkan adalah mahasiswa menjadi pelopor keselamatan berlalulintas, kemudian akan menjadi Kampus tertib berlalulintas”, tegas Matheus.

Pantauan media, mahasiswa FH Undana sangat antusias mengikuti sosialisasi yang digelar PT Jasa Raharja cabang Kupang. (MBN01)