Jelang Penutupan KD, “Toko Donat” Online Bermunculan

0
2040

Kupang, NTT

Di tengah kobaran semangat Wali Kota Kupang menutup tempat prostitusi yang dianggap sebagai momok yang mengotori wajah kota dari sisi moralitas, “Toko Donat” (Prostitusi, Red) online mulai bermunculan bahkan blak – blakan menawarkan berjuta kenikmatan.

Senandung para penjaja “Donat” terdengar lirih dan menggoda berbalutkan tangis yang tak bersuara.

Jejaring media sosial dimanfaatkan secara maksimal untuk menjajakan “Donat” aneka rasa.

Di satu sisi kaum penikmat “Donat” dari berbagai kalangan, berlomba mengakses “Toko Donat”.

Entah penjaja “Donat” atau pemburu “Donat” yang disalahkan ataukah gadget yang harus bertanggung jawab?

Namun tak bisa dipungkiri, transaksi online menjadi alternataif tercepat di era digital saat ini.

Toko konvensional rupanya tak perlu dihancurkan karena seiring waktu dan perkembangan tekhnologi, toko online mulai menguasai pasar.

Dalam sebuah penelusuran media, ditemukan fakta mengejutkan. Para penjaja kenikmatan semu yang berseliweran bebas tak terkontrol jauh lebih banyak ketimbang yang terdata dan menghuni lokalisasi Karang Dempel (KD) dan beberpa lokalisasi lainnya di Kota Kupang.

Bahkan usia mereka hanya berkisar 19 sampai 28 tahun dengan perawakan yang mempesona.

Para penjaja “Donat” kebanyakan menghuni kamar kos yang letaknya dekat dengan Hotel agar mudah bertransaksi. Sementara sebagian lagi tinggal di hotel – hotel di jantung kota.

Strawberi Donat, (bukan nama sebenarnya) seorang penjaja “Donat”, ketika ditemui media ini mengatakan Ia terpaksa terjun ke dunia “Hitam” karena tuntutan ekonomi.

Agar privasinya tetap aman, Strawberi Donat menggunakan aplikasi media sosial Beetalk untuk berkomunikasi dan bertransaksi dengan calon pelanggan.

“Biar aman dan cepat saya pakai aplikasi ini”, ungkap Strawberi.

Strawberi biasanya mematok harga berkisar Rp500 ribu hingga Rp1 juta sekali mencicipi “Donat”. Bahkan sesama penjaja “Donat” online saling berbagi pelanggan.

“Kalau satu kali, saya dibayar Rp500 ribu. Tapi kalau teman yang dapat orderan terus diberi ke saya, nanti saya bayar Rp150 ribu ke dia. Sisanya untuk saya”, ungkap Strawberi, siswi salah satu Sekolah Menengah Atas di Kota Kupang ini.

Terpisah, Coklat Donat (Nama Samaran) mengatakan, Ia mencari pelanggan secara acak menggunakan aplikasi Wechat.

“Banyak juga yang iseng, uda deal malah menghilang, ya udah diblokir trus cari baru lagi”, kata Coklat.

Ditanya terkait kriteria pelanggan, Coklat dengan santai mengatakan uang adalah kriteria utama.

“Ada duit ada barang bang”, cetusnya.

Gadis pirang penyuka hello kity itu mengatakan jualan “Donat” dilakoninya sebagai aktivitas sampingan karena hingga saat ini Ia masih berstatus mahasiswi di salah satu perguruan tinggi di Kota Kupang.

“Nambah – nambah uang jajan bang”, katanya.

Bahkan para penjaja kenikmatan itu tak segan – segan “berjualan” media sosial facebook. Ada sebuah grup khusus yang dibuat untuk menjajakan jasa seks bernama “Cewe Pake Kota Kupang”.

Tak tanggung-tanggung, beberapa dari para “Pemain” bahkan tampil terang-terangan untuk menjajakan diri.

Hal tersebut merupakan tantangan serius bagi pemerintah yang saat ini komit memberantas persoalan prostitusi di Kota Kupang.

“Dengan adanya lokalisasi memudahkan kita untuk melakukan survey, bisa tentang HIV/AIDS, dan penyakit menular lainnya, sehingga bisa terkontrol tetapi ketika lokalisasi ditutup, akan menyulitkan kami, saya dan teman – teman tidak bisa mendeteksi prostitusi online, on call, yang jalanan, yang macam – macam”, kata sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS provinsi NTT, Dr.Husein Pancratius.

Dilihat dari aspek kesehatan, Dr.Husein, menjelaskan sesuai hasil survey KPA Kota Kupang, penyebaran HIV/AIDS terbesar bukan berada di Lokalisasi Karang Dempel.

“Saya kira lebih banyak yang non Karang Dempel ketimbang penghuni KD. Yang di KD sekitar 100 lebih sedangkan yang non KD ya ada di angka 1000 lebih.”, terang Dr.Husein.

“Penhuni KD berada di urutan 5 sementara ibu rumah tangga justru lebih tinggi, secara kumulatif ibu rumah tangga mencapai 1.200 an, sedangkan KD hanya beberapa saja”, imbuhnya.

Niat Pemerintah untuk menutup tempat lokalisasi, justru malah menyuburkan praktik prostitusi online di Kota Kupang. Persoalan ini menjadi tantangan bagi pemerintah dan pihak kepolisian, untuk menertibkan berbagai tempat hiburan malam, maupun penginapan dan hotel-hotel yang biasa digunakan untuk aktivitas esek – esek.

Selain tantangan suburnya bisnis prostitusi online, pelakunya pun sangat rentan terhadap berbagai penyakit menular seperti HIV/AIDS, Sifilis, dan penyakit menular seksual lainnya. (MBN01/AB/NO)