Retas Kesenjangan Timor Barat – Tiles, Unwira Gunakan Pendekatan Budaya dan Pendidikan

0
107

Kupang, NTT

Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) kembali membangun dan merawat silaturahmi antara Timor Barat (NTT, red) dan Timor Timur (RDTL, red) dengan menggunakan pendekatan budaya dan pendidikan sebagai upaya meretas kesenjangan serumpun beda Negara.

Upaya tersebut dikemas dalam sebuah seminar internasional bertajuk, ‘Potensi Kedekatan (Proximitas) Antara Timor Timur dan Timor Barat : Menjembatani Kesejangan Sosial, Politik, Ekonomi, dan Budaya.’ pada Sabtu, 20 Oktober, 2018 di Hotel Neo Aston, Kupang, Musa Tenggara Timur (NTT).

Kisah terpisahnya masyarakat serumpun menjadi dua negara berbeda berpangkal dari kekuasaan penjajah Eropa di Pulau Timor. Saat itu, Portugis menguasai wilayah yang kini menjadi Timor Leste. Adapun Belanda, daerah jajahannya adalah wilayah Indonesia saat ini. Setelah Indonesia merdeka dan Portugis melepaskan Timor Leste, kemudian menjadi bagian dari Indonesia namun kemudian tahun 1999 memilih untuk Merdeka, maka pulau Timor terbelah menjadi dua negara berbeda yakni Repulik Demokratic Timor Leste (Timor Timur) dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (Timor Barat).

Meskipun begitu, perasaan sebagai masyarakat yang memiliki satu rumpun masih terpatri dalam diri masyarakatnya karena didasari persamaan budaya dan bahasa.

Hal tersebut mendorong sivitas akademika Unwira untuk merekatkan kembali perseketuan itu dalam bingkai persaudaraan.

Rektor Unwira, Pater Dr. Philipus Tule, SVD, di sela – sela kegiatan seminar internasional, meyakini bahwa forum yang dihadiri keynote speaker dari Belanda, Singapura dan Negara Timor Leste, akan memberi kontribusi dalam menggumuli berbagai persoalan yang merupakan kesenjangan di daerah perbatasan.

“Dari segi akademik saya yakin forum ini akan memberi manfaat kedepannya”, katanya.

Dia menjelaskan, penampilan mahasiswa program study Seni, Drama, Tari dan Musik (Sendratasik) dengan lantunan berbagai lagu daerah Timor dan taria – tarian serta irama musik Sasando serta cerita rakyat menunjukan kekhasan budaya Timor, yang akan menjembatani kedua negara (timor Barat [NTT] – Timor Timur [RDTL]).

Lebih lanjut Dia mengatakan, hubungan antara kedua negara semakin diperkuat dalam bidang pendidikan, bahkan ribuan mahasiswa dari Negara Republik Demokratic Timor Leste (RDLT) tersebar di beberapa Perguruan Tinggi di Indonesia.

“2000 mahasiswa Timor Leste yang belajar di Indonesia, 200an belajar di kupang, 77 orang belajar di Unwira”, jelas Pater Philipus.

Mahasiswa Unwira serius mengikuti Seminar

Dikatakan pula, selain menerima mahasiswa asal Timor Leste di Unwira, pihaknya sudah bekerjasama dengan salah satu Universitas di Timor Leste yakni Dilli Institute Teknologi (DIT).

“Pendidikan merupakan medium yang akan menghubungkan kedua negara ini”, ujar Pater Philipus.

Perhatian pemerintah pusat dengan menggelontorkan sejumlah anggaran untuk pembangunan di wilayah perbatasan harus didukung oleh pemerintah daerah dan perguruan tinggi sebagai akademisi.

“Apa yang dilakukan pemerintah itu dari segi fisik, pembangunan sarana prasarana, karena itu dunia perguruan tinggi harus mendukung dengan program – program penguatan mentalitas, mindset, kesadaran berbudaya, kesadaran bertetangga secara sosial, yang meskipun sudah dipisahkan secara administrasi politik oleh batas – batas kenegaraan, tapi tidak pernah dipisahkan secara jelas secara kultural”, urai Pater Philipus.

Terpisah, Direktur pasca sarjana Dili institut Of Teknologi, Manuel Vong, mengatakan kerja sama Dilli Institute Teknologi (DIT) dan Unwira sangat kuat.

“Kerja sama kami sangat kuat dan kami akan maju terus, kerjasama institusional akan kita lanjutkan bahkan dengan pemerintah provinsi Nusa Tenggara Timur”, ungkap Mantan menteri Pariwisata RDTL itu optimis.

Manuel mengatakan kerjasama antara RDTL dan Indonesia, dalam hal ini Timor Barat, akan terus dijalin kendati ada perbedaan namun pebedaan tidak untuk dibeda – bedakan.

“Perbedaan adalah kekayaan kita, jangan lihat perbedaan sebagai perpecahan, sebaliknya dimaknai sebagai kekayaan untuk menyatukan kita meskipun berbeda negara”, tegas Manuel.

Sementara itu, Erik Rado dan Balberd Seran, dua orang mahasiswa Program studi Pendidikan Sendratasik, semester 7, Unwira, kepada awak media mengatakan, perlu ditanamkan pemahaman bagi generasi muda di wilayah Timor Leste dan Timor Barat bahwa kendati dipisahkan oleh batas administratif negara namun kesamaan budaya (tradisi) dan kemiripan bahasa menunjukan bahwa Tiles dan Timor Barat adalah saudara serumpun.

“Misalnya, Tradisi masyarakat Timor, kokok ayam dijadikan alarm, saat ayam berkokok pada pagi hari, memberi tanda bahwa aktivitas dimulai, hal tersebut bahkan dituangkan dalam syair lagu daerah Timor dengan menggunakan bahasa Tethun, yakni, Manu Basa Liras”, jelas Erik.

Bahkan menurut Balberd Seran, mahasiswa asal kabupaten Malaka ini, realitas kehidupan menunjukan bahwa tradisi dan interaksi sosial di daerah perbatasan masih terjaga dengan baik.

“Sampai saat ini ada pasar mingguan di daerah perbatasan, warga Timor Barat dan Timor Timur bebas melakukan transaksi jual beli. Yang diperjualbelikan kebanyakan sembako. Bahkan masih ada sistem barter”, ungkap Balberd.

Hal tersebut menurutnya membuktikan bahwa ikatan kekerabatan kedua negara sangat kuat. Dengan semangat tradisi dan adat (Budaya, red) masyarakat Timor justru membuktikan bahwa perasaan satu rumpun, bisa menerobos ruang dan waktu. (MBN01)