Cerita Pilu dan Trauma Istri Korban Penganiayaan Kapus Nunkolo

0
9513

Metrobuananews.com | Kupang – Masih terbayang jelas peristiwa pilu di benak Antonia Nomlene, yang menyaksikan secara langsung suaminya, Markus Missa, dianiaya tanpa belas kasih, saat mengantarnya untuk memeriksa kandungan buah cinta mereka.

Dengan berurai air mata, Antonia bercerita, bahwa pagi itu, Jumat (29/6/2018) sekira pukul 07.00 Wita, Ia dan suaminya bergegas menuju Puskesmas Nunkolo, kecamatan Oinlasi, Kabupaten TTS, dengan menempuh jarak sekitar 30an km, untuk memeriksa kandungannya.

Pukul 09.00 Wita, pasangan suami istri ini tiba di Puskesmas, dan langsung menuju loket untuk melakukan pendaftaran. Ada beberapa pegawai di dalam ruangan itu.

Menurut Antonia, seorang ibu menghampiri mereka ketika itu dan dengan ketus ibu itu mengatakan bahwa loket sudah tutup.

“Ibu tolong bantu, rumah kami jauh dari sini, kami juga sudah datang 2 kali”, pinta Antonia memelas.

Ibu itu kembali membentak Antonia dan memintanya untuk kembali lagi pada keesokan harinya dan harus lebih pagi.

Ironisnya, ketika itu baru jam 9 pagi, dan menurut Antonia para pegawai yang ada di dalam loket tersebut,  masing – masing hanya sibuk dengan handphonenya.

Antonia mengatakan, kendati dibentak tetapi Ia terus memohon agar bisa mendapatkan pelayanan kesehatan. Bahkan menurut Antonia, suaminya juga ikut memohon, namun tidak digubris.

“Suami saya bilang kalau loket sudah tutup maka sebaiknya pintu juga tutup biar tidak ada yang datang berobat lagi, kemudian suami saya menutup pintu loket dan kami pun meninggalkan Puskesmas”, jelas Antonia.

Baru beberapa langkah, lanjut Antonia, pegawai tadi memanggil mereka untuk kembali.

“Om mari dulu, saya punya bapa tua (kepala puskesmas) ada panggil”, ujar Antonia menirukan ucapan petugas loket.

Mendengar panggilan tersebut, Antonia dan suaminya kembali ke puskesmas, kemudian petugas tersebut menunjuk salah satu ruangan bahwa kepala pukesmas menunggu di sana.

“Saya punya suami pergi ke itu ruangan,   perasaan tidak enak, akhirnya saya ikut suami saya”, kata Antonia.

Tiba di depan ruangan kepala Puskesmas, Antonia mendapatkan suaminya sedang diamuk pimpinan instansi tersebut karena tidak melepas alas kaki saat masuk.

“Suami saya minta maaf, kemudian Dia keluar di emper lalu membuka sepatu dan dibuang ke bawah emper”, cetus Antonia.

Baru satu sepatu yang berhasil dibuka dan dibuang keluar, tiba – tiba seorang bidan datang dan mengamuk karena menganggap Markus tidak sopan dengan melempari mereka sepatu, padahal menurut Antonia, sepatu yang dibuang keluar jatuh dihalaman.

“Kepala Puskesmas kemudian bangun dan langsung pukul suami saya pas di pelipis, kemudian dia hajar terus sampai suami saya tidak berdaya, kemudian stafnya datang dan semua ambil bagian sampai suami saya mandi darah”, jelas Markus.

“Saya menangis sambil teriak, cukup, cukup, cukup, saya coba melerai sampai saya juga kena pukulan”, imbuh Antonia.

Setelah itu, lanjut Antonia,  Kapus dan stafnya membangunkan suami Antonia yang sudah babak belur dan terkapar di lantai. Tak lama berselang, seorang yang katanya Tentara, suami dari petugas loket tiba di puskesmas, juga seorang Polisi.

“Polisi itu amankan suami saya dan kami langsung dibawa ke Pospol, selanjutnya pak polisi antar suami saya berobat dan mengambil visum di Puskesmas Oinlasi”, pungkas Antonia.

Kini Antonia sang ibu hamil malang itu meratapi nasibnya sebagai masyarakat yang terpinggirkan dan terabaikan.

“Kami ini orang kecil, ketika penguasa mulai berlaku seperti seorang preman jalanan maka kami harus kemana. Dimana kami bisa memperoleh pelayanan kesehatan. Saya mau berobat juga takut, dengan kejadian ini kami sebagai orang kecil trauma, jangan sampai pelayanan kesehatan yang kami butuhkan namun kematian yang kami peroleh”, ujar Antonia sambil menangis.

Antonia menambahkan, sebelum peristiwa tanggal 29 Juni terjadi, perangai para petugas kesehatan di Puskesmas Nunkolo pada dasarnya kasar dan sering membentak pasien yang datang dari pedalaman.

Dia berharap, pemerintah kabupaten TTS maupun provinsi NTT, membuka mata dan hati untuk mendengar keluh kesah dan tangisan masyarakat kecil yang terpinggirkan, bukan sebaliknya bersekongkol dengan para penjahat berdasi yang tega menganiaya masyarakat kecil.

Terpisah, Kerabat korban, Zet Missa, kembali meminta, parat kepolisian menindak tegas pelaku penganiayaan terhadap Markus Missa, dan mengakibatkan trauma bagi Antonia Nomlene, yang usia kandungannya menginjak 6 bulan.

“Pak polisi segera tangkap dan adili pelaku penganiayaan terhadap adik saya”, tegas Zet.  (MBN01)