Ingkar Janji, Advokat Alex Frans Cs Gugat Kudji Herewila Cs Ke PN Kupang

0
2270

Metrobuananews.com | Kupang – Pemimpin dan penanggung jawab lembaga bantuan hukum, ALF Law Office, Alex Frans bersama seorang anggota advokat ALF Law Office, Joksan A.D Nau melayangkan gugatan ingkar janji terhadap Kudji Herewila (Tergugat I), Haga Rame Herewila (Tergugat II) dan Bani Yuliana Rame Hawu (tergugat III), ke Pengadilan Negeri Kelas I A Kupang.

Langkah tersebut merupakan puncak dari kekecewaan para penggugat yang merasa dihina dan dilecehkan serta dicermarkan nama baik dan reputasi sebagai advokat, dimana secara sepihak tergugat mencabut surat kuasa   sebagai kuasa hukum atas perkara pembagian warisan pada tahun 2016 lalu.

Dalam copian surat yang ditujukan kepada Ketua Pengadilan Negeri Kelas IA Kupang dan diterima media ini, Senin (2/7/2018) dijelaskan, duduk perkara kasus tersebut yakni, Januari 2016 tergugat I yaitu Kudji Herewila mendatangi kantor Kantor Hukum ALF Law Office memohon bantuan agar ALF Law Office membantu para tergugat menangani kasus pembagian warisan atas 2 (dua) bidang tanah masing-masing seluas 4.456 M2 dan 21.195 M2 di Desa Tarus Kecamatan Kupang Tengah Kabupaten Kupang untuk dibagi 4 bagian.

Dijelaskan dalam surat itu, setelah pengugat I menyatakan kesiapannya maka tergugat I menyerahkan berkas-berkas tanah warisan tersebut kepada pengugat untuk dipelajari sekaligus menghitung anggaran untuk penanganan kasus tersebut yang terdiri dari, biaya operasional kantor Advokat ALF Law Office, honorarium advokat/ALF Law Office pada tingkat Pengadilan Negeri Oelmasi, Pengadilan Tinggi Kupang dan Mahkamah Agung RI serta sukses fee kantor advokat ALF Law Office apabila berhasil memenangkan perkara.

Menurut Penggugat, biaya yang disepakati ketika itu berupa dana operasional kantor ALF Law Office Rp25 juta, honorarium kantor ALF Law Office pada Pengadilan Negeri Oelmasi, Pengadilan Tinggi Kupang dan Mahkamah Agung RI, Rp100 juta dan sucses fee kantor ALF Law Office apabila berhasil memenangkan gugatan pembagian warisan dan para tergugat mendapatkan haknya lebih kurang tanah seluas 18.000M2 maka kantor ALF Law Office diberikan fee 10% dari nilai obyek sengketa kurang 18.000M2 dengan perhitungan Rp 200 ribu per meter persegi sebagai harga terendah, sehingga dibulatkan Rp.300 juta.

Para tergugat akhirnya menyanggupi untuk membayar biaya operasional sebesar Rp.25 juta, sedangkan honorarium sebesar Rp100 juta dan sucses fee 10% Rp300 juta akan dibayar sekaligus apabila perkara dimenangkan dan telah memiliki kekuatan hukum tetap.

Kasus tersebut kemudian berproses dan tanggal 25 Agustus 2016 Pengadilan Negeri Oelmasi menjatuhkan putusan, Mengabulkan Gugatan Para Penggugat Seluruhnya, selanjutnya tergugat (Rita Ratukore dkk) mengajukan upaya banding.

“Kantor ALF Law Office tetap menjalankan surta kuasa nomor 4/PDT, G/2016/PN.Olm, karena di dalam point 4 disebutkan dengan jelas, Surat Kuasa Ini Digunakan Juga Untuk Kepentingan Banding dan Kasasi dan berakhir kemenangan ALF Low Office”, jelas Alex Frans dalam gugatannya.

Lebih lanjut dijelaskan,  perkara trus bergulir hingga putusan Mahkama Agung (MA) Republik Indonesia (RI) (19/10/2017), Menolak Pemohon Kasasi Rita Ratukore dkk. Hal tersebut menujukan bahwa Kantor ALF Law Office telah menjalakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai kuasa hukum secara baik.

Ironisnya, setelah penggugat yang notabene sebagai kuasa hukum memberitahukan kepada kliennya (tergugat) bahwa perkara telah berakhir di MA dan mereka dinyatakan sebagai pemenang, tergugat malah secara sepihak dengan sadar dan sengaja mencabut surat kuasa nomor 4/AF.PH-HWI/II/2016, padaha tanpa dilakukan pencabutan pun surat kuasa tersebut hanya berlaku hingga penandatanganan relas putusan kasasi tanggal 21 Mei 2018, di mana ALF Low Office telah menjalankan tanggungjawabnya secara baik.

“Dengan demikian para tergugat wajib membayar hak penggugat sebesar Rp.400 juta”, tegas Alex. (MBN01)